Senin, 18 Februari 2013

18 Februari 2013. 20:03


Lima puluh lima menit yang lalu aku masih terbaring tak bertenaga. Tidak, aku tidak sakit. Mungkin ya, sedikit. Kaki kiriku serasa mau remuk. Efek berlari-lari mengejar dosen di kampus. Tapi itu 55 menit yang lalu. Kini aku duduk di depan laptop merah kesayangan. Terinspirasi dari pesan singkat seorang kawan yang bercerita mengenai blog barunya, tiba-tiba aku ingat sudah hampir setahun aku tak menengok blog ini. Mungkin sudah dipenuhi dengan sulaman jaring laba-laba, atau debu di berbagai sudut layar. Atau mungkin juga blog ini sudah berjamur. Satu-satunya apologi yang bisa kuberikan hanyalah, sibuk.
Aku sangat ingin menulis sekarang. Jujur, tidak ada ide. Tapi jujur juga, aku bosan merangkai kata-kata ilmiah dalam skripsiku. Sudah lebih dari 100 halaman yang kurangkai berdampingan dengan angka dan grafik di dalamnya, namun tak satupun dari kalimat-kalimat itu yang kutulis dengan hati. Lucu memang. Tapi benar, aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada Hubungan Internasional. Satu-satunya yang kusukai dari studi itu hanyalah fakta bahwa politik yang diajarkan di dalamnya, juga mengajariku berpolitik dalam kehidupan nyata. Aku jadi (lebih) tahu bagaimana menghadapi manusia-manusia di muka bumi yang penuh dengan kepentingan pribadi. Dan hebatnya lagi, aku jadi (lebih) tahu bagaimana cara menggolkan kepentinganku dengan cara yang lembut.
Baik, kembali ke ide. Benar, aku tidak punya ide saat ini. Bahkan memasuki paragraf ke tiga, katakanlah tulisan ini masih berupa sampah. Sampah yang merayap di otakku, lalu kumuntahkan melalui jari. Sampai pada akhirnya jari-jari ini memberontak dan menyeretku pada sebuah folder di Drive C. Folder dengan nama “tulisanku” yang memuat sebagian besar kisahku dan sampah-sampah lain dalam diriku yang tak pernah tersampaikan.
Aku mulai membaca beberapa tulisan. Seperti telah berkoordinasi baik dengan hati dan otak, tulisan yang dipilih oleh jariku adalah tulisan-tulisan yang kubuat untukmu, juga sebaliknya. Entah apa yang mendorongku melakukan ini. Membaca beberapa tulisan yang dulu sempat menggugah, mengguncang, sekaligus menginspirasi hatiku. Tulisan darimu. Tulisanku untukmu. Tulisan yang bisa merangkum dari awal perkenalan kita, hingga kini ketika kita bersama. Kubaca secara acak. Sebagian kubaca serius, dan sebagian kuloncati karena aku hafal dengan baik apa yang kau dan aku tuliskan. Setelah membaca hampir keseluruhan kisah, satu hal yang kusadari. Tulisan-tulisan itu penuh dengan kebohongan. Sampah. Tulisan-tulisan itu adalah tameng yang sengaja kita rangkai dengan rapat sejak dari dalam otak hingga di atas keyboard. Tulisan-tulisan itu penuh dengan kebohongan yang seharusnya membuat kita saling menggugat.
Aku membohongimu dengan manisnya dan berkata betapa tidak berharganya kau sebagai seorang yang tak pernah lebih penting dari sekedar teman. Betapa aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu apapun yang terjadi. Betapa kau bukan tipeku (untuk yang satu ini bukan kebohongan). Iya, lebih dari itu, 80% yang kuceritakan padamu adalah kebohongan. Kebohongan yang kulakukan secara (mungkin) tak sengaja hanya untuk menutupi rasa takutku. Kenyataan bahwa aku sangat menyukaimu sejak dulu membuatku muak dan merasa konyol. Tidak ada hal yang lebih memuakkan selain jatuh cinta pada pria yang tidak memiliki hati dan tidak pernah menganggap bahwa ia akan membutuhkan kekasih. Benar, bagimu, cinta hanya akan menjauhkanmu dari tujuan hidupmu. Dan labeling atas cinta hanya budaya absurd hasil turunan dari sejarah patriarki peradaban umat manusia atas kasih sayang. Kau menempatkan dirimu sebagai orang normal di antara manusia normal lain yang kau sebut aneh. Seolah kau kemudian menjadi aneh bukan karena kau aneh, namun karena mereka yang terlalu mainstream. Aku membaca kata demi kata yang kau tulis dalam “Makhluk Relatif” di blogmu. Kucermati tiap ide dan sanggahan. Tiap penjelasan dan tiap rasionalisasimu.
Mereview kembali apa yang kau tulis di “Makhluk Relatif”.Kau mempertanyakan tentang kegunaan pacaran. Katamu, kau tidak butuh pacar dan juga tidak memiliki rasa cinta. Bagimu untuk mendapatkan hal lebih yang diberikan seorang wanita terhadap kekasihnya tidak perlu melalui pacaran. Manusia adalah makhluk relatif yang kesetiaannya diragukan. Karena itu kau menganggap setia pada seorang manusia adalah pengorbanan yang sia-sia. Jika hanya untuk berciuman, berpelukan, bercinta dan mendapat perhatian, tidak perlu dengan seorang pacar. Semakin kau berpikir, kau semakin yakin bahwa masih ada manusia yang tidak memiliki cinta, dan kaulah salah satu dari jenis manusia itu. Menurutmu, berpacaran adalah fase lain dari penderitaan. Hingga dengan bangganya kau berkata, “Aku merasa menjadi orang yang aneh di tengah orang yang menganggap cinta itu ada dan harus ada. Karena ketiadaan dalam keberadaan akan menjadi pembeda dalam suatu kelompok. Dan itu aku.”  Namun, lihatlah dirimu sekarang.
Tidak, tulisanku ini bukan suatu bentuk gugatan atas dirimu. Jangan pula melihat ini sebagai bentuk tulisan yang se-ide namun berlawanan argumen dengan yang kau tuliskan. Aku hanya merasa perlu menuliskan suatu gugatan atas kepongahan seseorang menilai manusia lain di sekitarnya. Kengkuhan dalam tulisanmu menempatkan dirimu sebagai yang Maha Benar kala itu. Tulisanmu jelas mampu mencuci otak manusia lain yang membacanya tanpa mengenalmu. Namun sekali lagi, nyatanya makhluk yang menuliskannya adalah seorang manusia. Manusia yang kau gambarkan tidak akan pernah bisa setia, tidak bisa dipercaya, dan selalu berubah-ubah. Manusia yang bisa menyucikan dirinya sendiri dalam keadaan terburuk setelah perpisahan sekalipun. Manusia yang kau sebut makhluk relatif. Manusia yang secara utuh adalah kau sendiri. Benar, menurutku, kaulah makhluk yang paling relatif dari kisah makhluk relatif yang kau tulis. Atau jika kau menyanggahnya, berarti hidup kita sekaranglah yang sebenarnya merupakan kisah kebohongan lain yang tak sempat ditulis. Semoga tidak.

Ditulis dalam dinginnya gerimis malam
Ditemani perasaan tak bermakna akan harapan
Yang aku tidak tahu itu ada atau tidak
                                                                                                                        Selalu Mencintaimu