Lima
puluh lima menit yang lalu aku masih terbaring tak bertenaga. Tidak, aku tidak
sakit. Mungkin ya, sedikit. Kaki kiriku serasa mau remuk. Efek berlari-lari
mengejar dosen di kampus. Tapi itu 55 menit yang lalu. Kini aku duduk di depan
laptop merah kesayangan. Terinspirasi dari pesan singkat seorang kawan yang
bercerita mengenai blog barunya, tiba-tiba aku ingat sudah hampir setahun aku
tak menengok blog ini. Mungkin sudah dipenuhi dengan sulaman jaring laba-laba,
atau debu di berbagai sudut layar. Atau mungkin juga blog ini sudah berjamur. Satu-satunya
apologi yang bisa kuberikan hanyalah, sibuk.
Aku
sangat ingin menulis sekarang. Jujur, tidak ada ide. Tapi jujur juga, aku bosan
merangkai kata-kata ilmiah dalam skripsiku. Sudah lebih dari 100 halaman yang
kurangkai berdampingan dengan angka dan grafik di dalamnya, namun tak satupun
dari kalimat-kalimat itu yang kutulis dengan hati. Lucu memang. Tapi benar, aku
tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada Hubungan Internasional. Satu-satunya
yang kusukai dari studi itu hanyalah fakta bahwa politik yang diajarkan di
dalamnya, juga mengajariku berpolitik dalam kehidupan nyata. Aku jadi (lebih)
tahu bagaimana menghadapi manusia-manusia di muka bumi yang penuh dengan
kepentingan pribadi. Dan hebatnya lagi, aku jadi (lebih) tahu bagaimana cara
menggolkan kepentinganku dengan cara yang lembut.
Baik,
kembali ke ide. Benar, aku tidak punya ide saat ini. Bahkan memasuki paragraf ke
tiga, katakanlah tulisan ini masih berupa sampah. Sampah yang merayap di
otakku, lalu kumuntahkan melalui jari. Sampai pada akhirnya jari-jari ini
memberontak dan menyeretku pada sebuah folder di Drive C. Folder dengan nama “tulisanku” yang memuat sebagian besar
kisahku dan sampah-sampah lain dalam diriku yang tak pernah tersampaikan.
Aku
mulai membaca beberapa tulisan. Seperti telah berkoordinasi baik dengan hati
dan otak, tulisan yang dipilih oleh jariku adalah tulisan-tulisan yang kubuat
untukmu, juga sebaliknya. Entah apa yang mendorongku melakukan ini. Membaca beberapa
tulisan yang dulu sempat menggugah, mengguncang, sekaligus menginspirasi
hatiku. Tulisan darimu. Tulisanku untukmu. Tulisan yang bisa merangkum dari
awal perkenalan kita, hingga kini ketika kita bersama. Kubaca secara acak. Sebagian
kubaca serius, dan sebagian kuloncati karena aku hafal dengan baik apa yang kau
dan aku tuliskan. Setelah membaca hampir keseluruhan kisah, satu hal yang
kusadari. Tulisan-tulisan itu penuh dengan kebohongan. Sampah. Tulisan-tulisan
itu adalah tameng yang sengaja kita rangkai dengan rapat sejak dari dalam otak
hingga di atas keyboard. Tulisan-tulisan
itu penuh dengan kebohongan yang seharusnya membuat kita saling menggugat.
Aku
membohongimu dengan manisnya dan berkata betapa tidak berharganya kau sebagai
seorang yang tak pernah lebih penting dari sekedar teman. Betapa aku tidak akan
pernah jatuh cinta padamu apapun yang terjadi. Betapa kau bukan tipeku (untuk
yang satu ini bukan kebohongan). Iya, lebih dari itu, 80% yang kuceritakan
padamu adalah kebohongan. Kebohongan yang kulakukan secara (mungkin) tak
sengaja hanya untuk menutupi rasa takutku. Kenyataan bahwa aku sangat
menyukaimu sejak dulu membuatku muak dan merasa konyol. Tidak ada hal yang
lebih memuakkan selain jatuh cinta pada pria yang tidak memiliki hati dan tidak
pernah menganggap bahwa ia akan membutuhkan kekasih. Benar, bagimu, cinta hanya
akan menjauhkanmu dari tujuan hidupmu. Dan labeling
atas cinta hanya budaya absurd hasil turunan dari sejarah patriarki peradaban
umat manusia atas kasih sayang. Kau menempatkan dirimu sebagai orang normal di
antara manusia normal lain yang kau sebut aneh. Seolah kau kemudian menjadi
aneh bukan karena kau aneh, namun karena mereka yang terlalu mainstream. Aku membaca
kata demi kata yang kau tulis dalam “Makhluk Relatif” di blogmu. Kucermati tiap
ide dan sanggahan. Tiap penjelasan dan tiap rasionalisasimu.
Mereview
kembali apa yang kau tulis di “Makhluk Relatif”.Kau mempertanyakan tentang
kegunaan pacaran. Katamu, kau tidak butuh pacar dan juga tidak memiliki rasa
cinta. Bagimu untuk mendapatkan hal lebih yang diberikan seorang wanita
terhadap kekasihnya tidak perlu melalui pacaran. Manusia adalah makhluk relatif
yang kesetiaannya diragukan. Karena itu kau menganggap setia pada seorang
manusia adalah pengorbanan yang sia-sia. Jika hanya untuk berciuman, berpelukan,
bercinta dan mendapat perhatian, tidak perlu dengan seorang pacar. Semakin kau
berpikir, kau semakin yakin bahwa masih ada manusia yang tidak memiliki cinta,
dan kaulah salah satu dari jenis manusia itu. Menurutmu, berpacaran adalah fase
lain dari penderitaan. Hingga dengan bangganya kau berkata, “Aku merasa menjadi orang yang aneh di tengah
orang yang menganggap cinta itu ada dan harus ada. Karena ketiadaan dalam
keberadaan akan menjadi pembeda dalam suatu kelompok. Dan itu aku.” Namun, lihatlah dirimu sekarang.
Tidak, tulisanku ini bukan suatu bentuk gugatan
atas dirimu. Jangan pula melihat ini sebagai bentuk tulisan yang se-ide namun
berlawanan argumen dengan yang kau tuliskan. Aku hanya merasa perlu menuliskan
suatu gugatan atas kepongahan seseorang menilai manusia lain di sekitarnya. Kengkuhan
dalam tulisanmu menempatkan dirimu sebagai yang Maha Benar kala itu. Tulisanmu jelas
mampu mencuci otak manusia lain yang membacanya tanpa mengenalmu. Namun sekali
lagi, nyatanya makhluk yang menuliskannya adalah seorang manusia. Manusia yang
kau gambarkan tidak akan pernah bisa setia, tidak bisa dipercaya, dan selalu
berubah-ubah. Manusia yang bisa menyucikan dirinya sendiri dalam keadaan
terburuk setelah perpisahan sekalipun. Manusia yang kau sebut makhluk relatif. Manusia
yang secara utuh adalah kau sendiri. Benar, menurutku,
kaulah makhluk yang paling relatif dari kisah makhluk relatif yang kau tulis. Atau
jika kau menyanggahnya, berarti hidup kita sekaranglah yang sebenarnya
merupakan kisah kebohongan lain yang tak sempat ditulis. Semoga tidak.
Ditulis dalam dinginnya gerimis
malam
Ditemani perasaan tak bermakna akan
harapan
Yang aku tidak tahu itu ada atau
tidak
Selalu
Mencintaimu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar