“Seorang Ayah yang memelukmu setelah memarahi
kenakalanmu,
itulah
Ayah yang sesungguhnya.”
Sejak kecil aku tumbuh sebagai
sosok yang manja. Seorang anak terakhir, juga seorang adik. Papa adalah orang
yang paling berperan dalam kemanjaanku. Terhadapnya, aku selalu merasa
dinomorsatukan. Dulu, tidak ada orang lain yang boleh memandikanku selain papa.
Juga tidak ada yang boleh mencebokku
selain papa. Karenanya, aku pernah terlantar selama 3 jam di kamar mandi hingga
tertidur dalam posisi jongkok. Bahkan saat kecil, aku tak bisa tidur jika tidak
didekap di ketiaknya. Memeluk dan dipeluk olehnya selalu memberiku rasa nyaman
tersendiri.
Papa
sangat sibuk. Dulu, bertemu dengannya beberapa bulan sekali adalah hal yang
lumrah. Ia sering pergi ke daerah konflik ‘tuk berperang, melanjutkan sekolah
untuk naik pangkat, bahkan dipindahkan dinasnya ke kota lain. Tak heran jika
keluarga kami sangat akrab dengan yang namanya adaptasi. Di tengah kerinduanku
pada Papa ketika ia tak ada, aku kerap melakukan hal-hal yang kini kusadari
sangat konyol. Ada sebuah kaos yang papa pakai sebelum ia berangkat ke
Timor-Timur (kini Timor Leste). Kaos itu adalah peneman tidurku tiap malam,
selama setahun. Kaos itu tidak pernah dicuci. Di kaos itu, aku bisa merasakan
aroma tubuh papa. Memeluk kaos itu membuatku dapat merasakan kehadirannya.
Tidak hanya kaos, aku juga membawa foto papa kemana-mana. Menunjukkannya pada
teman-teman di sekolah, dan meletakkannya di meja ketika pelajaran berlangsung.
Pernah ada seorang teman yang mengolokku dan berkata bahwa papa adalah tentara
gadungan. Aku hanya bisa pulang dan menangis, mengadu pada mama betapa jahatnya
dia. Sejak saat itu, aku membencinya
Ketika merindukan papa, aku juga menyempatkan
diri untuk menulis surat. Surat yang berisi kepolosan anak kecil yang dengan
lugasnya dapat mengucap rindu sekaligus meminta tas baru. Dan beberapa bulan
lalu, aku menemukan sepucuk surat yang sudah lusuh tersimpan rapi di lemari Papa.
Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang nyaris tak bisa dibaca. Tanda baca
berantakan, diksi tidak tepat, serta spasi yang tak tentu arah. Ya, itulah
surat dariku untuknya. Yang kutulis di kelas 2 SD, dan hingga saat ini masih
disimpan olehnya. Surat itu kutulis ketika ia pendidikan di Bandung, sementara
kami sekeluarga masih berdomisili di Ambon.
Papa
seperti ATM sekaligus toserba untukku. Semua yang kuinginkan ada padanya.
Materi yang kubutuhkan dipenuhi olehnya. Ia juga merupakan pacar bagiku ketika
SMP. Kami nonton bersama, beli pakaian bersama, dan bernyanyi bersama. Ialah yang
mengajariku cara mengendarai sepeda, motor, hingga mobil. Ia yang melarangku
menangis ketika jatuh, agar aku menjadi anak yang kuat. Ia menjadi orang yang
mendorongku ke kolam renang untuk pertama kalinya. Mengajariku menggunakan
raket tenis dan bulutangkis, mengajariku memainkan tuts-tuts organ, juga
mengenalkanku pada ABBA.
Sebagai
seorang tentara yang terbiasa dengan kedisiplinan, papa sebenarnya bukan orang
yang sabar. Konon di kantor, ia terkenal galak. Tapi, aku tak pernah melihatnya
sebagai tentara. Memang kenakalanku ketika kecil kerap kali membuatnya murka,
hingga memukulku. Bahkan ia pernah mendaratkan hanger di tubuhku hingga patah berkeping-keping. Namun itu murni
karena kenakalanku. Mendorong anak orang ke dalam got, menjambak rambut mereka,
hingga memaksa mereka memegang ulat bulu, itulah kegiatanku sehari-hari. Tak
heran jika hampir tiap jam ada saja tetangga yang melaporkan kenakalanku. Dan
tetap saja, setelah memukulku, Papa lah yang memeluk tangisanku terlebih
dahulu. Benar, kami sangat dekat.
Jika
ditanya siapa sahabat masa kecilku, jawabanku tidak ada. Tempat tinggal yang
berpindah-pindah membuatku tak pernah punya waktu khusus untuk bersahabat
dengan seseorang. Tapi tak masalah. Papa saja sudah cukup.
Pernah suatu kali aku bertanya
tentang kisah cintanya sebelum bertemu mama. Wow, papaku ternyata seorang playboy! Ia mengencani banyak wanita,
diidolai banyak wanita, menjadi anak band, dan juga sangat nakal. Ia bahkan
pernah menjual sepatu dinas ayahnya untuk bersenang-senang. Di jamannya, ia
adalah anak lelaki yang sangat suka bergaul. Semua kenakalan remaja pria, telah
ia cicipi. Maka kini tak heran, ketika berkaca aku melihat sosok papa muda di
dalam diriku.
He is untold. Aku sangat menyukai papa.
Sesekali bertengkar adalah wajar diantara kami. Sebab, itulah yang seharusnya
dilakukan ayah dan anak, berbagi dan berdebat. Hingga aku berada di bangku
kuliah seperti saat ini, kami masih tetap berteman baik. Aku membagi cerita
padanya tentang pria-pria yang kukenal. Meminta sarannya, dan jika
memungkinkan, pasti mengenalkan mereka padanya. Ia selalu bersekongkol denganku
ketika aku memutuskan untuk berlibur ke luar kota. Yah, mau bagaimana lagi,
mama adalah seorang perempuan rumahan. Yang selalu mengomel ketika melihat
anaknya memanjangkan kaki. Tapi sesekali tetap mengirimkan bantuan materi
ketika anaknya terlantar di kota asing.
Kelak, jika Tuhan mengijinkanku
‘tuk memilih sendiri seorang suami, aku akan memilih yang menyerupai papa.
Cukup menyerupai saja. Sebab, aku tahu tidak ada yang sepertinya di dunia ini.
Ia tidak akan pernah tergantikan. Tentangnya, ada satu hal yang tak pernah
kulupakan. Ia pernah berkata bahwa aku harus menjalani apapun yang kuyakini. Ia
sebagai orang tua, tidak akan melarang. Namun wajib bagiku, sebagai anak, untuk
memberikan pertanggungjawaban untuk tiap keputusan yang kuambil. Papa benar-benar
keren. Ialah yang mengajariku bagaimana cara paling tepat untuk menikmati hidup
dan bersenang-senang. Bahkan hingga kini, di umurnya yang menginjak 51 tahun,
tak ada yang berubah dari dirinya. Selain uban yang sudah mulai tumbuh dan
kerutan yang mulai melipit di wajahnya, ia tetap tampak sama. Seorang papa yang
luar biasa.[]
Setelah baca artikel ini, mulai berguman sendiri.. Langsung berhadapan dengan tanda tanya besar di depan mata..
BalasHapus"Bisakah Aku menjadi seorang Ayah yang ideal di mata Anakku nanti? Sehebat Ayahku, sewibawa Eyangku?"
Thank Bek, bisa intropeksi kecil :-)