Aku menganggap tulisan ini sebagai sebuah surat. Surat yang ditulis oleh seseorang yang paling manusiawi dari para manusia. Paling hangat dari mereka yang mengaku hangat. Dan paling bodoh dari sekian banyak teman bodoh yang kukenal.
Senin, 21 Februari
2011, 23:09
Aku merasa menjadi manusia sekarang, mungkin
hanya malam ini. Manusia yang kata orang bisa merasakan kesedihan. Manusia yang
bisa merasa kehilangan, dikhiananti dan merasa terkucilkan.
Kemarin, ia mengutarakan apa yang dia
rasakan kepadaku. Rasa suka terhadap orang lain, itu yang dia ceritakan. Aku
tidak mengenal orang yang dia suka. Pun tidak membencinya. Dan bahkan aku tidak
membenci siapapun ketika ia menceritakan itu. Aku anggap adalah hal yang wajar
ketika seseorang menyukai orang lain.
Malam ini berbeda, entah apa yang merasuki
ku, aku pun menjadi layaknya manusia yang utuh lengkap dengan kesedihan. Ini sedih,
rasa yang pernah aku buang jauh-jauh kala itu. Ternyata sedih itu tidak hilang,
dia ada sekarang, menggantikan rasionalitas yang aku gadang-gadang dewasa ini.
Aku merasakan bangunan piramid atas nama rasionalitas runtuh malam ini.
“Siapa yang gak sedih kala orang yang selama ini ada disamping kita memilih
pergi dengan orang lain?”
Itu kata yang muncul kala itu, dan jelas aku tampik mentah-mentah. “Aku
tidak butuh pacar,” jawabku. Manusia bebas, sebebas aku tidak bisa terikat
dengan aturan apa lagi kesetiaan. Aku bak musafir yang pergi untuk memuaskan
nafsu akan nikmatnya sebuah perjalanan.
“Bagaimana aku bisa puas kalau ada rasa setia?” celetukku.
Tapi malam ini berbeda. Aku sedih dan menjadi manusia.
Hai kawan, untuk siapapun surat itu kau tujukan, kau tahu bahwa dirimu lebih dari yang kau gambarkan di dalamnya. Dan ia, yang kau ceritakan di dalam surat itu, sebenarnya sangat bodoh karena tidak mau tahu akan keberadaanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar