Minggu, 29 April 2012

Ketika Pendidikan pun Ber-Merk


            Tidak keren namanya kalau sekolah di sekolah negeri. Apalagi sekolah negeri yang masih berstandar nasional, alias SN (Sekolah Nasional). Jaman sekarang ini, kalau mau anaknya cerdas, maka sekolahkan di SBI (Sekolah Berstandar Internasional).
            Mungkin dapat dikatakan bahwa kalimat di atas sangat mewakili fenomena yang sedang melanda dunia pendidikan di negeri ini. Derasnya arus globalisasi yang turut menyeret sistem pendidikan Indonesia ke dalamnya, sudah pasti turut membentuk pola pikir masyarakat. Terutama bagi mereka yang tinggal di perkotaan.  Hal tersebut menyebabkan Indonesia dilanda krisis identitas dalam dunia pendidikannya. Ini dapat dilihat dari minimnya minat masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah yang berembel-embel ‘negeri’. Alasannya, kualitas SN tidak ada apa-apanya dibandingkan kualitas SBI yang memang saat ini sedang menjamur.
SBI adalah sekolah  yang memiliki staf pengajar dari luar negeri yang dipercaya berilmu lebih tinggi dari staf pengajar lokal. Fasilitas yang dimiliki SBI pun jauh lebih lengkap dibandingkan SN. Belum lagi kurikulum yang dianut oleh SBI adalah kurikulum yang juga dianut oleh negara-negara maju yang kualitas pendidikannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah tentu, hal ini membuat para orang tua berlomba-lomba untuk memasukkan anaknya ke dalam SBI. Sebab mau bagaimanapun juga, suatu hal yang sangat lumrah jika orang tua melakukan apa yang menurut mereka terbaik bagi anaknya. Lalu, bagaimana dengan nasib SN saat ini?
Pertanyaan seperti inilah yang kiranya saat ini dilupakan oleh sebagian besar orang tua di luar sana. Karena silaunya “merk” yang giat dipromosikan oleh SBI, mereka jadi lupa bahwa perlu adanya kekritisan dari diri mereka sendiri untuk memilih apa yang benar-benar terbaik bagi, bukan hanya anak mereka, namun juga bagi kelangsungan hidup seluruh keluarga mereka. Mengapa saya berkata begini? Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa SBI bukan hanya memberikan sistem pengajaran bertaraf internasional. Namun tarifnya pun juga bertaraf internasional. Jika biasanya sekolah di Indonesia masih dapat dijangkau dengan nilai rupiah, aka SBI memiliki standar sendiri yang segala kalkulasinya dihitung dengan standar dollar. Tentu hal ini tidak masalah bagi mereka yang berkantong tebal. Namun bagaimana dengan mereka yang berkantong pas-pasan namun sangat berharap memberikan yang terbaik bagi anak mereka? Terlebih lagi jika dalam pola pikirnya sudah terbentuk persepsi bahwa “pendidikan yang terbaik hanya didapat dari SBI, bukan SN”.
Pola pemikiran seperti inilah yang kiranya perlu dijernihkan oleh pemerintah. Karena disadari atau tidak, keberadaan SBI yang begitu tiba-tiba di negara ini sebenarnya belum siap diterima oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terlalu terbuka oleh setiap budaya yang masuk ke negara ini. Tiap hal yang “berbau barat” akan dengan mudah diterima oleh masyarakat negara ini tanpa melihat dulu apakah hal tersebut benar-benar sesuai dengan budaya bangsa Indonesia yang sudah ada sejak dulu. Memang benar bahwa tidak ada salahnya masyarakat terbuka pada tiap hal baru. Namun juga bukan berarti bahwa semuanya bisa diterima begitu saja. Ada banyak hal yang kiranya perlu disaring untuk kemudian disesuaikan terlebih dahulu dengan ke-Indonesia-an bangsa ini. Teori ini pula yang seharusnya diberlakukan dalam dunia pendidikan Indonesia.
Keberadaan SBI dapat dipastikan telah menggusur keberadaan SN yang duluya menjadi idola di negeri ini. Dulu, semua orang tua murid berlomba-lomba memasukkan anaknya di sekolah negeri sebab katanya tidak semua orang bisa masuk sekolah tersebut. Hanya mereka yang memiliki nilai ujian tinggi yang bisa masuk ke dalamnya. Dan adanya persaingan tersebut sejauh ini bisa dikatakan bagus dan masuk akal. Bagus karena mereka secara tidak langsung dididik untuk memiliki jiwa kompetitif. Dan masuk akal karena semahal-mahalnya SN, standar pembayarannya masih menggunakan nilai rupiah.
Namun sekarang, persaingan tersebut hampir tidak ada lagi. Hal ini tampak pada sepinya minat masyarakat untuk mendaftarkan anaknya di SN. Bahkan santer diberitakan beberapa hari yang lalu bahwa terdapat beberapa Sekolah Dasar (SD) di Jakarta yang akan ditutup karena kekurangan siswa. Dan untuk mereka yang sudah mendaftar di sekolah tersebut, nantinya akan dijadikan satu di SD lainnya yang tidak jauh dari sana. Peristiwa ini jelas menggambarkan bahwa ada pemisahan kelas dalam dunia pendidikan dengan adanya kehadiran merk pada sekolah. SN dianggap sebagai sekolah dengan kualitas rendah. Sedangkan SBI adalah sekolah impian. Ya, namanya saja impian. Maka sekolah ini hanya bisa dimasuki oleh mereka yang kaya dan hanya bisa menjadi impian bagi mereka yang miskin. Secara psikologispun sudah tentu dampak pemisahan kelas ini berimbas besar pada mereka yang hanya bisa sekolah di SN. Para siswa yang hanya bersekolah di SN akan menganggap rendah dirinya sendiri. Lingkungan pergaulan pun juga pasti akan mendapat pengaruh yang sama. Dan apakah sampai di situ saja permasalahan yang akan ditanggung rakyat negeri ini? Jawbannya adalah tidak.
Salah satu ciri khas yang dimiliki SBI terletak pada staf pengajarnya. SBI terkenal memiliki staf pengajar seorang bule, yang berarti bahwa staf pengajar tersebut diimpor dari luar negeri. Para guru yang dibawa dari luar ini konon katanya memiliki kualitas yang jauh lebih tinggi dari para guru lokal. Namun sayangnya, hingga kini belum ada sebuah uji coba resmi yang dilakukan pemerintah untuk membuktikannya. Padahal jika mau diperhatikan lebih mendalam, tidak sedikit orang pintar yang ada di negara ini. Dan alangkah baiknya jika pembangunan bangsa dilakukan dengan lebih mengandalkan orang di dalamnya daripada harus mengimpor dari luar. Sudah cukup bahan kebutuhan pokok yang negara ini impor. Haruskah saat ini staf pengajar pun diimpor? Bagaimana dengan masalah tingginya angka pengangguran yang ada?
Sebaiknya segala dana yang pemerintah anggarkan untuk mengembangkan SBI tersebut dialihkan untuk membangun lebih banyak lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Bukannya malah mempersempit kesempatan kerja yang mereka miliki sehingga untuk mencari sesuap nasi saja rakyat negeri ini harus “mengemis” di negeri orang, dan akhirnya kembali ke Indonesia dengan tinggal namanya saja. Hal ini menunjukkan bahwa sekarang privatisasi ala neo-liberalisme yang dilakukan Indonesia sudah merambat pada aspek pendidikan. Kebijakan itu seolah dibuat hanya sebagai jalan pintas Indonesia untuk bisa disejajarkan di dunia internasional, tapi tidak member dampak positif pada kualitas keseluruhan anak bangsa. Malah kini kebijakan ini justru menimbulkan golongan elit baru dalam dunia pendidikan. Kebijakan yang jelas-jelas merugikan bangsa inipun terang-terangan dituliskan dalam pasal pengelolaan pendidikan di UU Sisdiknas 2003.
Namun menurut saya, apapun alasannya, jangan lagi ada aset negara ini yang diprivatisasi pemerintah atau bahkan dijual pada negara lain. Karena satu hal yang mungkin belum dipahami oleh pemerintah adalah bahwa pendidikan merupakan satu-satunya harapan bangsa ini untuk bisa menegakkan kepala di hadapan negara lain. Melalui pendidikan, seharusnya generasi muda bangsa ini dididik untuk berpikir secara global tanpa perlu meninggalkan nasionalisme mereka. Namun jika SDM negara inipun turut menjadi korban privatisasi sejak dini, siapa lagi yang kelak bisa diharapkan untuk membangun negara ini? Inilah tugas penting yang harus pemerintah selesaikan. Pemberian merk dalam dunia pendidikan inilah yang harus pemerintah perbaiki. Sebab faktanya, warga negara ini sendiri sekarang sedang mengalami kesalahan pendefinisian akan  pepatah yang berbunyi “Raihlah ilmu hingga negeri Cina”. Fokus rakyat negeri ini bukan lagi pada ilmu itu sendiri. Melainkan pada negeri mana yang dapat memberi ilmu itu. Dan berkat arus globalisasi yang juga mengaliri negara ini, ilmu yang dulu hanya pepatah suruh untuk dicari hingga Cina pun ternyata sekarang sudah tersedia di negara-negara maju lainnya yang dipaksakan masuk ke negara ini oleh pemerintahnya sendiri. Dan ilmu tersebut pun telah dikemas lengkap dalam sebuah paket berjudul SNBI.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar