Senin, 30 April 2012

Pengerangkengan Si Shopaholic


“Rebecca Bloomwood atau yang akrab disapa Becky, dengan semangatnya berjalan memasuki toko-toko pakaian ternama. Tiap ia keluar dari toko-toko tersebut, bukan satu atau dua bagstore yang ia bawa. Tapi bisa lebih dari itu. Hasratnya akan kepemilikan barang indah, berkilau, dan menarik bisa terpenuhi dengan mudah berkat adanya sebuah kartu ajaib bernama credit card (kartu kredit). Kartu kredit adalah perahu yang membawanya mengarungi kegilaan hasratnya dalam berbelanja. Jaket: Visa, gaun: AMEX, sabuk: MasterCard! Tak ketinggalan, tasnya pun berlabel Gucci yang harganya tentu sangat mahal. Konon, kepuasan yang ia dapat setelah berbelanja rasanya seperti kepuasan yang ia dapat ketika pria yang ia sukai tersenyum padanya. Hatinya mencair seketika. Begitu juga yang ia rasakan ketika melihat toko. Oh, tidak! Bahkan toko lebih baik dari itu! Pria tetap tidak bisa menyaingi toko. Baginya, aroma toko selalu harum. Membangkitkan gairah untuk membeli tas yang tidak diperlukan.  Dan membuat si shopaholic ini lupa diri. Belanja bisa membuatnya lupa pada pria, jumlah saldo rekeningnya, dan membuatnya merasa mendapat sebuah identitas baru. Dalam gaun-gaun, tas, syal, dan sepatu mahal itu, ia merasa tampil sempurna. Layaknya seorang peri atau putri. Baginya, keberadaan sebuah syal yang indah akan membantunya tampil maksimal dalam sebuah wawancara kerja dan membuatnya setara dengan para pesohor fesyen di kantor majalah Allete tempat karir impiannya. Bahkan ketika kantor majalah tanaman tempatnya bekerja saat itu sebagai seorang jurnalis menggalami kebangkrutan, ia tetap tidak bisa menghentikan kegilaan belanjanya. Segala produk kapitalisme olahan negara maju itu pada akhirnya membawanya pada lilitan hutang sebesar $16.262,70 atau kurang lebih Rp 159.374.460,00 (dalam kurs 1$ = Rp9.800,00) yang harus ia bayar dengan status sebagai pengangguran ![1]
          Membaca sepenggal kisah dalam film Confessions of A Shopaholic di atas rasanya secara tidak langsung membenarkan teori yang beranggapan bahwa hasrat adalah energi buruk yang dapat mengganggu tatanan sosial.[2] Karena hasrat belanjanya yang berlimpah, Becky pada akhirnya mendapatkan musibah berupa lilitan hutang dari kesenangan sesaat yang ia rasakan ketika berbelanja. Menurut Sigmund Freud, hasrat sendiri lahir dari adanya ketidaksadaran. Freud, menggeledah hasrat pada wilayah ketidaksadaran dan menemukan hasrat primordial yang liar, disruptif, instingtual, dan irasional.  Sifat liar dari  hasrat ini dilihat sebagai kandungan ketidaksadaran yang mesti “dipotong” arus pertumbuhannya karena bisa membahayakan otoritas Ego. Dalam pengertian ini, Ego merupakan bagian dari diri yang sudah disadari atau bisa dibilang, bagian yang berfungsi sebagai kesadaran dalam pembentukan diri. Dan hasrat yang dimiliki oleh Becky jelas sekali terlihat telah menyinggung otoritas ego yang dimilikinya. Hasrat yang ia miliki membuatnya jauh dari kesadaran dan hanya mementingkan identitas serta kepuasan diri. Dan bahkan setelah ia sadarpun, hasrat itu tak lagi terbendung.

Hasrat Akan Identitas
       Hasrat yang dimiliki Becky adalah hasrat akan identitas yang sudah tentu, hasrat ini tidak autentik lagi. Hasrat ini sudah lain sama sekali dari apa yang dilahirkan oleh  ketidaksadaran. Berangkat dari wacana sosial, hasrat asali ditransformasi lewat filterisasi jejaring pencitraan, menjadi hasrat yang tidak autentik lagi. Pada tataran kesadaran, identitas selalu merupakan hasrat terhadap “liyan” (the other). Dalam tahap ini, ego tidak hanya kehilangan kejernihannya dalam membedakan hasrat akan identitas dirinya dengan hasrat akan identitas orang lain, tetapi mencampuradukkan hasrat akan identitasnya dengan hasrat akan identitas orang lain. Ironisnya, hasrat akan identitas secara tidak langsung mendatangkan korban atau tumbal baru.
Identitas keakuan lah yang menjadi tumbal baru tersebut dalam pencarian definisi diri. Sebab, hasrat untuk memiliki identitas sebagai bentuk dari mendapat pengakuan, mendorong Ego untuk meyakini dirinya sebagai objek. Keinginan Becky untuk membeli barang-barang mewah itu bukan karena ia membutuhkan barang tersebut. Tapi lebih karena barang mewah tersebut memberikan sense of identity bagi orang yang memilikinya. Dengan memiliki barang-barang tersebut, Becky akan merasa bahwa dirinya setara dengan para pesohor fesyen dan dirinya layak diterima untuk bekerja di Allete Magazine yang memang berbasis fesyen.
Keinginan Becky untuk memiliki identitas yang lebih bisa diterima itu membuat ia mencampuradukkan identitas dirinya yang asli dengan identitas orang yang ia ingin-jadi-seperti. Dan tumbal dari semua itu adalah dirinya sendiri. Ketika ia memakai pakaian mewah yang seharusnya di luar jangkauannya, orang akan melihat dirinya setara dengan tokoh fesyen yang  memang senantiasa berdandan mewah. Bukan sebagai Rebecca Bloomwood yang bekerja sebagai seorang jurnalis di majalah tanaman biasa. Dan di saat orang lain merasa bahwa apa yang ia kenakan tidak cocok atau kurang cocok dengannya, ia akan memikirkan kembali cara berpenampilannya. Bisa jadi, ia membeli aksesoris lain yang ia rasa “butuh” sebagai pemercantik penampilannya. Tanggapan bermacam-macam seperti inilah yang disebut dengan bentuk konkret pengakuan orang lain akan identitas seseorang (dalam contoh ini, Becky). Keberadaan pengakuan tersebut mengoreksi dan menentukan hasrat akan identitas subjek. Dan ketika orang lain memiliki tanggapan yang berbeda-beda, tanggapan yang ambigu ini membuat permintaan selalu berulang-ulang. Akibatnya, hasrat Becky akan kesempurnaan penampilan hingga titik tertinggi identitas diri yang ia inginkan, tidak akan pernah terpuaskan.
          Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa hasrat selalu berada “di luar” dan “sebelum” kebutuhan. Pengertian hasrat sebagai prinsip yang berada di luar kebutuhan berarti bahwa hasrat melampaui kebutuhan dan tidak dapat diterjemahkan secara terpisah oleh kebutuhan. Maka, hasrat akan selalu tidak terpuaskan oleh pemenuhan kebutuhan yang sifatnya dangkal. Sedangkan hasrat yang dimengerti sebagai prinsip yang berada sebelum kebutuhan berarti bahwa hasrat memunculkan kebutuhan. Contoh, tiap kali Becky berbelanja, ia merasa bahwa ia memang membutuhkan barang tersebut atau setidaknya, suatu saat nanti ia pasti akan membutuhkan barang tersebut. Dan karena itu dirasa sebagai kebutuhan, maka ia harus membelinya. Fenomena ini juga berlaku terhadap hasrat akan identitas. Hasrat akan identitas yang sama akan muncul kembali setelah suatu kebutuhan tidak terpuaskan untuk mencari pemenuhan kebutuhan yang lain sampai tidak terbatas. Pada tingkat ini, hasrat akan identitas bisa disebut sebagai sebuah kekurangan absolut.[3]
Pengerangkengan Hasrat
           Dalam psikoanalisis, Becky dikategorikan sebagai manusia neurosis, yaitu manusia yang tidak mampu memfilterisasi arus hasrat irasional sehingga muncul di wilayah kesadaran. Hasrat irasionalnya ketika membelanjakan uang terus-menerus untuk barang yang tidak diperlukan mungkin memang berangkat dari ketidaksadarannya. Hasrat yang muncul itu berada di luar logikanya. Namun, lama-kelamaan hasrat belanja ini seolah membiasakan dirinya untuk terus melakukan hal yang sama sehingga menjadi suatu kebiasaan. Hingga di titik kesadaran pun, kesadaran yang dimilikinya tidak bisa membendung hasrat yang ada. Untuk orang-orang seperti Becky, Freud membangun psikoanalisis sebagai tempat rehabilitasi. Dalam tempat rehabilitasi ini, manusia neurosis ditelaah sebagai objek yang hasratnya masih liar. Dan untuk memotong arus pertumbuhan sifat liar dari hasrat yang mengandung ketidaksadaran tersebut, Freud menciptakan sebuah sistem ketat triangulasi oedipal yang imajiner. Sistem  ini digunakan untuk menangkap aliran hasrat dan membunuhnya. Dari sana, sistem triangulasi oedipal tersebut akan melahirkan subjek-subjek yang telah dikebiri hasratnya dan siap masuk ke wilayah sosial.
Mungkin jika Becky hidup di dunia nyata dalam era Sigmund Freud saat itu, saya rasa ia tidak akan terlilit hutang yang begitu banyak. Ia tetap bisa menjadi seorang yang senang belanja tanpa keluar dari cetakan frame “karena benar-benar butuh”. Karena mungkin saja teori-teori skizoanalisis yang dilontarkan Freud bisa membantunya untuk sadar akan hasratnya yang berlebihan. Namun jika hal itu benar terjadi, maka rasanya belum tentu ada film Confessions of A Shopaholic ini dan hasrat saya akan tontonan film fesyen yang kemilau pun bisa jadi tidak terpenuhi. Jadi untuk anda yang memang suka berbelanja dan susah mengendalikan kegilaan hasrat yang anda miliki, tetaplah berbelanja. Namun ketika di kasir, ingatlah selalu bahwa “Kepuasan hasrat yang anda dapat dari belanjaan saat ini tidak menjamin adanya kebahagiaan yang utuh bagi anda kelak”. Selamat berbelanja![]


[1] Film: Confessions of A Shopaholic, Touchstone Pictures. Jerry Bruckheimer Films – Walt Disney Studios
[2] Hartono, Agustinus: Skizoanalisis Deleuze dan Guattari. Hal. 145 (Bab. Penutup)
[3] Hartono, Agustinus: Skizoanalisis Deleuze dan Guattari, hlm. 32 (Madan Sarup, Op. Cit., hlm. 34)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar