“Rebecca Bloomwood atau yang akrab disapa Becky, dengan semangatnya
berjalan memasuki toko-toko pakaian ternama. Tiap ia keluar dari toko-toko
tersebut, bukan satu atau dua bagstore yang ia bawa. Tapi bisa
lebih dari itu. Hasratnya akan kepemilikan barang indah, berkilau, dan menarik
bisa terpenuhi dengan mudah berkat adanya sebuah kartu ajaib bernama credit
card (kartu kredit). Kartu kredit adalah
perahu yang membawanya mengarungi kegilaan hasratnya dalam berbelanja. Jaket:
Visa, gaun: AMEX, sabuk: MasterCard! Tak ketinggalan, tasnya pun berlabel Gucci
yang harganya tentu sangat mahal. Konon, kepuasan yang ia dapat setelah
berbelanja rasanya seperti kepuasan yang ia dapat ketika pria yang ia sukai
tersenyum padanya. Hatinya mencair seketika. Begitu juga yang ia rasakan ketika
melihat toko. Oh, tidak! Bahkan toko lebih baik dari itu! Pria tetap tidak bisa
menyaingi toko. Baginya, aroma toko selalu harum. Membangkitkan gairah untuk
membeli tas yang tidak diperlukan. Dan
membuat si shopaholic ini lupa diri.
Belanja bisa membuatnya lupa pada pria, jumlah saldo rekeningnya, dan
membuatnya merasa mendapat sebuah identitas baru. Dalam gaun-gaun, tas, syal,
dan sepatu mahal itu, ia merasa tampil sempurna. Layaknya seorang peri atau
putri. Baginya, keberadaan sebuah syal yang indah akan membantunya tampil
maksimal dalam sebuah wawancara kerja dan membuatnya setara dengan para pesohor
fesyen di kantor majalah Allete tempat karir impiannya. Bahkan ketika kantor
majalah tanaman tempatnya bekerja saat itu sebagai seorang jurnalis menggalami
kebangkrutan, ia tetap tidak bisa menghentikan kegilaan belanjanya. Segala
produk kapitalisme olahan negara maju itu pada akhirnya membawanya pada lilitan
hutang sebesar $16.262,70 atau kurang lebih Rp 159.374.460,00 (dalam kurs 1$ =
Rp9.800,00) yang harus ia bayar dengan status sebagai pengangguran ![1]”
Membaca
sepenggal kisah dalam film Confessions of A Shopaholic di atas rasanya secara
tidak langsung membenarkan teori yang beranggapan bahwa hasrat adalah energi
buruk yang dapat mengganggu tatanan sosial.[2]
Karena hasrat belanjanya yang berlimpah, Becky pada akhirnya mendapatkan
musibah berupa lilitan hutang dari kesenangan sesaat yang ia rasakan ketika berbelanja.
Menurut Sigmund Freud, hasrat sendiri lahir dari adanya ketidaksadaran. Freud,
menggeledah hasrat pada wilayah ketidaksadaran dan menemukan hasrat primordial
yang liar, disruptif, instingtual, dan irasional. Sifat liar dari hasrat ini dilihat sebagai kandungan ketidaksadaran
yang mesti “dipotong” arus pertumbuhannya karena bisa membahayakan otoritas
Ego. Dalam pengertian ini, Ego merupakan bagian dari diri yang sudah disadari
atau bisa dibilang, bagian yang berfungsi sebagai kesadaran dalam pembentukan
diri. Dan hasrat yang dimiliki oleh Becky jelas sekali terlihat telah
menyinggung otoritas ego yang dimilikinya. Hasrat yang ia miliki membuatnya
jauh dari kesadaran dan hanya mementingkan identitas serta kepuasan diri. Dan
bahkan setelah ia sadarpun, hasrat itu tak lagi terbendung.
Hasrat
Akan Identitas
Hasrat yang dimiliki Becky adalah hasrat akan identitas yang sudah
tentu, hasrat ini tidak autentik lagi. Hasrat ini sudah lain sama sekali dari
apa yang dilahirkan oleh ketidaksadaran.
Berangkat dari wacana sosial, hasrat asali ditransformasi lewat filterisasi
jejaring pencitraan, menjadi hasrat yang tidak autentik lagi. Pada tataran
kesadaran, identitas selalu merupakan hasrat terhadap “liyan” (the other). Dalam tahap ini, ego tidak
hanya kehilangan kejernihannya dalam membedakan hasrat akan identitas dirinya
dengan hasrat akan identitas orang lain, tetapi mencampuradukkan hasrat akan
identitasnya dengan hasrat akan identitas orang lain. Ironisnya, hasrat akan
identitas secara tidak langsung mendatangkan korban atau tumbal baru.
Identitas keakuan lah yang menjadi
tumbal baru tersebut dalam pencarian definisi diri. Sebab, hasrat untuk memiliki
identitas sebagai bentuk dari mendapat pengakuan, mendorong Ego untuk meyakini
dirinya sebagai objek. Keinginan Becky untuk membeli barang-barang mewah itu
bukan karena ia membutuhkan barang tersebut. Tapi lebih karena barang mewah
tersebut memberikan sense of identity
bagi orang yang memilikinya. Dengan memiliki barang-barang tersebut, Becky akan
merasa bahwa dirinya setara dengan para pesohor fesyen dan dirinya layak
diterima untuk bekerja di Allete Magazine yang memang berbasis fesyen.
Keinginan Becky untuk memiliki
identitas yang lebih bisa diterima itu membuat ia mencampuradukkan identitas
dirinya yang asli dengan identitas orang yang ia ingin-jadi-seperti. Dan tumbal
dari semua itu adalah dirinya sendiri. Ketika ia memakai pakaian mewah yang
seharusnya di luar jangkauannya, orang akan melihat dirinya setara dengan tokoh
fesyen yang memang senantiasa berdandan
mewah. Bukan sebagai Rebecca Bloomwood yang bekerja sebagai seorang jurnalis di
majalah tanaman biasa. Dan di saat orang lain merasa bahwa apa yang ia kenakan
tidak cocok atau kurang cocok dengannya, ia akan memikirkan kembali cara
berpenampilannya. Bisa jadi, ia membeli aksesoris lain yang ia rasa “butuh”
sebagai pemercantik penampilannya. Tanggapan bermacam-macam seperti inilah yang
disebut dengan bentuk konkret pengakuan orang lain akan identitas seseorang
(dalam contoh ini, Becky). Keberadaan pengakuan tersebut mengoreksi dan
menentukan hasrat akan identitas subjek. Dan ketika orang lain memiliki
tanggapan yang berbeda-beda, tanggapan yang ambigu ini membuat permintaan
selalu berulang-ulang. Akibatnya, hasrat Becky akan kesempurnaan penampilan
hingga titik tertinggi identitas diri yang ia inginkan, tidak akan pernah
terpuaskan.
Dengan
demikian, bisa dikatakan bahwa hasrat selalu berada “di luar” dan “sebelum”
kebutuhan. Pengertian hasrat sebagai prinsip yang berada di luar kebutuhan berarti
bahwa hasrat melampaui kebutuhan dan tidak dapat diterjemahkan secara terpisah
oleh kebutuhan. Maka, hasrat akan selalu tidak terpuaskan oleh pemenuhan
kebutuhan yang sifatnya dangkal. Sedangkan hasrat yang dimengerti sebagai
prinsip yang berada sebelum kebutuhan berarti bahwa hasrat memunculkan
kebutuhan. Contoh, tiap kali Becky berbelanja, ia merasa bahwa ia memang
membutuhkan barang tersebut atau setidaknya, suatu saat nanti ia pasti akan
membutuhkan barang tersebut. Dan karena itu dirasa sebagai kebutuhan, maka ia
harus membelinya. Fenomena ini juga berlaku terhadap hasrat akan identitas.
Hasrat akan identitas yang sama akan muncul kembali setelah suatu kebutuhan
tidak terpuaskan untuk mencari pemenuhan kebutuhan yang lain sampai tidak
terbatas. Pada tingkat ini, hasrat akan identitas bisa disebut sebagai sebuah
kekurangan absolut.[3]
Pengerangkengan
Hasrat
Dalam psikoanalisis, Becky dikategorikan
sebagai manusia neurosis, yaitu manusia yang tidak mampu memfilterisasi arus
hasrat irasional sehingga muncul di wilayah kesadaran. Hasrat irasionalnya
ketika membelanjakan uang terus-menerus untuk barang yang tidak diperlukan
mungkin memang berangkat dari ketidaksadarannya. Hasrat yang muncul itu berada
di luar logikanya. Namun, lama-kelamaan hasrat belanja ini seolah membiasakan
dirinya untuk terus melakukan hal yang sama sehingga menjadi suatu kebiasaan.
Hingga di titik kesadaran pun, kesadaran yang dimilikinya tidak bisa membendung
hasrat yang ada. Untuk orang-orang seperti Becky, Freud membangun psikoanalisis
sebagai tempat rehabilitasi. Dalam tempat rehabilitasi ini, manusia neurosis
ditelaah sebagai objek yang hasratnya masih liar. Dan untuk memotong arus
pertumbuhan sifat liar dari hasrat yang mengandung ketidaksadaran tersebut,
Freud menciptakan sebuah sistem ketat triangulasi oedipal yang imajiner. Sistem
ini digunakan untuk menangkap aliran
hasrat dan membunuhnya. Dari sana, sistem triangulasi oedipal tersebut akan
melahirkan subjek-subjek yang telah dikebiri hasratnya dan siap masuk ke wilayah
sosial.
Mungkin jika Becky hidup di dunia
nyata dalam era Sigmund Freud saat itu, saya rasa ia tidak akan terlilit hutang
yang begitu banyak. Ia tetap bisa menjadi seorang yang senang belanja tanpa
keluar dari cetakan frame “karena
benar-benar butuh”. Karena mungkin saja teori-teori skizoanalisis yang
dilontarkan Freud bisa membantunya untuk sadar akan hasratnya yang berlebihan. Namun
jika hal itu benar terjadi, maka rasanya belum tentu ada film Confessions of A
Shopaholic ini dan hasrat saya akan tontonan film fesyen yang kemilau pun bisa
jadi tidak terpenuhi. Jadi untuk anda yang memang suka berbelanja dan susah
mengendalikan kegilaan hasrat yang anda miliki, tetaplah berbelanja. Namun
ketika di kasir, ingatlah selalu bahwa “Kepuasan hasrat yang anda dapat dari
belanjaan saat ini tidak menjamin adanya kebahagiaan yang utuh bagi anda
kelak”. Selamat berbelanja![]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar