Senin, 30 April 2012

Perempuan, Tembakau, dan Lahbako


Tembakau  adalah sebuah sumber daya alam yang sejak pertumbuhannya pertama kali sudah sangat dekat dengan budaya masyarakat Indonesia. Bukan hanya sebagai budaya, ia juga layaknya sahabat yang menaungi gaya hidup bangsa Indonesia dan berhasil membuktikan dirinya sebagai ‘daun emas’ yang sangat berharga. Dalam proses kelahirannya, tembakau memang bukan dilahirkan di Indonesia. Tetapi ia dibawa oleh Belanda pada masa kolonial. Namun, kedatangan tembakau mendapat sambutan hangat dari masyarakat Indonesia. Seiring perkembangannya pun, Bangsa iIndonesia nyatanya memiliki cara tersendiri untuk dapat menikmati tembakau.
Bermula di kudus, daun ini mulai diolah menjadi kretek oleh salah seorang bernama Haji Djamhari pada akhir abad 19. Kemudian  dinamakan kretek karena jika dihisap bunyi pembakarannya akan menyerupai bunyi daun yang terbakar yaitu “kretek-kretek”. Selain itu, banyak pula yang menyebutkan bahwa kretek ini bukan rokok. Sebab kretek tidak hanya menggunakan tembakau, tetapi ada juga campuran cengkeh di dalamnya. Dan untuk memperkuat rasa dan mempertahankan kualitas rasanya dalam kurun waktu lama, juga ditambahkan saus-saus tertentu yang membuat kretek semakin nikmat dihisap. Hal ini berbeda dengan rokok (baca: rokok putih) yang di dalamnya sama sekali tidak terkandung cengkeh. Pun tembakau yang digunakan bukan merupakan tembakau asli, melainkan sintetis. Maka dari itu penting rasanya untuk membedakan kretek dan rokok.
            Dulu, kretek adalah sahabat masyarakat. Ia adalah teman ngaso para petani untuk melepas lelah, pembuka percakapan antar dua orang yang tidak saling mengenal, dan ia adalah salah satu simbol tradisi dalam bergotong-royong. Bahkan dalam kendurenan, kretek merupakan salah satu menu wajib. Laki-laki dan perempuan, semua mengonsumsi batangan ini. Simbolnya yang kuat pada tradisi Bangsa Indonesia membuat kretek diterima dengan sangat baik. Tidak ada sedikitpun kecurigaan yang muncul dari masyarakat terhadap kretek. Yang mereka tahu hanyalah kretek sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Hal ini yang sekarang mulai susah ditemui.
Masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keramah-tamahannya pada pendatang dari luar, toh tercermin jelas juga memiliki keramahan yang luar biasa dengan berbagai pemikiran yang dibawa dari luar. Pun ketika kretek diserang secara besar-besaran dengan berbagai isu negatif perihal kesehatan, tidak sedikit yang menerima begitu saja. Mereka lupa bahwa kretek saat ini bukan saja merupakan warisan Budaya Indonesia, tetapi juga sebuah komoditas. Ia adalah simbol kekuatan perekonomian bangsa yang dari hulu ke hilir digarap, dihasilkan, dinikmati, dan juga menguuntungkan bagi Indonesia sendiri. Bahkan keberadaan kretek sebagai komoditas pun secara tidak langsung diamini oleh dunia internasional.
Kretek menjadi salah satu industri paling laris yang memberikan mata pencaharian dan kesejahteraan bagi banyak orang. Maka dari itu, tak heran bila Indonesia yang notabene masuk daftar produsen tembakau terbesar nomor enam di dunia[1] pun ikut-ikutan dilirik oleh Multinational Corporation. Di sinilah persaingan ekonomi global mulai turut menyeret industri kretek. Berbondong-bondong perusahaan asing berusaha mengakuisisi perusahaan kretek nasional.  Dimulai dari Bentoel yang diakuisisi oleh British American Tobbaco, kemudian disusul dengan Sampoerna yang dibayar mahal oleh Philip Moris untuk kepemilikannya. Dan cara yang mereka lakukan untuk menyerang industri nasional secara besar-besaran adalah dengan menghembuskan isu yang beberapa tahun belakangan ramai dikampanyekan disana-sini. Ya, apalagi kalau bukan isu merokok yang membahayakan bagi kesehatan.
Siapa yang tidak ingin sehat? Lumrahnya, semua manusia di bumi pasti ingin sehat. Maka dari itu, tidak mengherankan jika hembusan isu ini menuai reaksi yang sangat keras dari masyarakat. Dimana-mana mulai bermunculan komunitas-komunitas yang mengidentifikasikan dirinya sebagai pejuang masyarakat. Pelindung masyarakat dari bahaya merokok. Aksi protes pun mereka lontarkan disana-sini agar pemerintah segera mengharamkan rokok. Rokok yang merupakan warisan budaya bangsa justru kian mengalami degradasi makna dengan diposisikan sebagai benda yang menjijikan, dan haram. Namun  ternyata isu merokok membahayakan bagi kesehatan ini dirasa kurang ganas oleh World Health Organization (WHO) , penghembus isu tersebut. Maka, muncullah isu baru yang lebih ‘lucu’ yaitu second hand smoker.
            Santer diberitakan bahwa berada di dekat seseorang yang sedang merokok jauh lebih berbahaya daripada si perokok itu sendiri. Sebab, zat yang terkandung dalam asap kretek memiliki kandungan nikotin tiga kali jauh lebih banyak dan lebih berbahaya daripada yang terkandung dalam kretek itu sendiri. Sontak kemunculan isu ini semakin memicu reaksi luar biasa dari masyarakat. Apalagi ketika dalam isu tersebut perempuan dan anak-anak lah yang digunakan sebagai korban. Kaum perempuan yang merasa berposisi jauh dari kretek dan industri tembakau lantas berang dengan keberadaan kretek. Apalagi kretek saat ini identik ‘berjenis kelamin’ laki-laki.
            Dampaknya, saat ini tidak sedikit kaum perempuan yang juga aktif bergabung dalam komunitas-komunitas yang anti terhadap kretek. keberadaan isu perokok pasif membuat perempuan-perempuan tersebut dijejali keyakinan akan keberadaannya yang menjadi korban dan perlu dilindungi. Mereka seolah lupa bahwa dulu, sekali lagi melihat ke belakang, bangsa Indonesia tidak pernah meletakkan jenis kelamin pada rokok. Mereka pun menjadi egois dan cenderung apatis sehingga mulai melupakan aspek ekonomi-sosial-budaya yang ada dalam kretek. hanya dengan satu isu itu, perempuan (yang sudah terjejali) tersebut sibuk mengkampanyekan berbagai aksi anti kretek di sana-sini.
Yang juga semakin dilupakan oleh mereka adalah bahwa bangsa ini merupakan bangsa agraris. Dimana, dalam bangsa agraris perempuan memiliki posisi yang cukup vital. Bukan sebagai bentuk superioritas, melainkan semacam pembagian kerja. Laki-laki dan perempuan (sebut saja petani) memang sudah biasa bekerja bersama di sawah yang mereka garap. Ini semacam tradisi dan kebiasaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Hal ini pula yang berlaku pada industri tembakau Indonesia. Yang tidak disadari oleh masyarakat awam adalah keberadaan perempuan dalam industri tembakau sebenarnya sangat dekat. Sebab, dalam industri ini, mayoritas yang bekerja adalah perempuan. Mulai dari proses tanam hingga pengolahan, ketelitian dan kesabaran perempuan dalam bekerja nyatanya memegang peranan yang sangat penting. Kondisi tersebut yang dapat ditemukan dengan mudah pula di Kabupaten jember. Salah satu kota penghasil tembakau terbesar di indonesia.
Perempuan Jember dan Tembakaunya
Jember adalah sebuah kota yang terletak di hampir paling ujung timur Pulau Jawa. Kota yang terkenal dengan Jember Fashion Carnaval-nya ini juga disebut-sebut sebagai salah satu kota penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Predikat tersebut jelas terlihat dari logo yang dimiliki pemerintah daerahnya yang menyertakan tembakau sebagai simbolnya. Kota ini awalnya berstatus sebagai salah satu distrik dari regentschap Bondowoso. Kota yang dulu tidak terlalu besar, sepi, dan juga tidak dikenal. Namun perkebunan-perkebunan yang dimilikinya sebagai akibat kebijakan ekonomi ‘the system of enterprise’ pada dekade ke enam dan ke tujuh abad XIX,  dapat dikatakan merupakan titik awal perkembangannya dari kota kecil yang senyap menjadi kota yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa dampak berarti bagi keberadaan Kota Jember hingga saat ini. Terjadi perubahan-perubahan sosial dan ekonomi secara besar-besaran di kota ini. Dan salah satu pemicunya adalah keberadaan perkebunan tembakau yang mulai dibangun di kota ini.
            Penanaman tembakau di Jember dimulai pada tahun 1856 di Sukowono, Jember Utara, dirintis oleh seorang mantan kontroler pamong praja jember yang mendirikan perusahaan perkebunan tembakau (padmo & Jatmiko, 1991). Sejak itulah, keberadaan tembakau yang ternyata membuka kesempatan kerja bagi banyak pihak, baik perusahaan maupun tenaga kerja yang bahkan hingga didatangkan dari madura, semakin berkembang. Dengan perkembangan pesatnya, bahkan komoditas tembakau merupakan komoditas penyumbang terbesar nilai ekspor yang mencapai 71,25 % dari total komoditas ekspor lainnya di Jember seperti kopi, karet, edamame, dan lain-lain[2].  
            Secara demografis,  jember merupakan Kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak di jawa Timur, setelah Surabaya dan malang. Jumlah penduduk Jember menurut hasil  registrasi tahun 2009 adalah 2.179.829 jiwa,  dengan komposisi laki-laki sebanyak 1.060.190 jiwa dan perempuan sebanyak 1.119.639 jiwa[3]. Angka ini menunjukkan bahwa jumlah perempuan di Jember lebih banyak dari jumlah laki-lakinya. Maka kemudian tidak mengherankan jika untuk penyerapan tenaga kerja di perkebunan tembakau sendiri, perempuan lebih mendominasi dibanding laki-laki.
            Keberadaan industri tembakau di jember merupakan sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat jember. Para perempuan di jember mayoritas adalah perkerja di perkebunan yang tiap harinya bekerja membantu suami ataupun bekerja untuk menghidupi diri sendiri. Giatnya perempuan Jember dalam bekerja di perkebunan tembakau ini tentu merupakan pematahan atas hipotesa kaum perempuan di kota lain yang menganggap bahwa keberadaan perempuan  adalah jauh dari industri tembakau dan kretek. Bahkan salah satu situs bisnis Jember yang mengutip pernyataan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jember, M. Thamrin, mengatakan bahwa hampir 80% lebih pekerja tembakau yang ada di Jember itu didominasi oleh kaum perempuan[4]. Ini juga berarti keberadaan tembakau secara signifikan telah mengurangi angka pengangguran di Jember dan memberdayakan perempuan ke jenjang sosial yang lebih tinggi, yaitu perempuan bekerja.
            Lebih jauh melihat ke dalam perkebunan tembakau Jember, dominasi perempuan di sektor ini memang cukup beralasan. Dimana dalam proses pengolahan tembakau, keberadaan perempuan sangat menunjang terhadap kualitas hasil yang ada. Mengolah tembakau memang membutuhkan keuletan dan kesabaran ekstra. Karena tiap daun yang telah dipetik adalah berharga. Dan perempuan adalah kaum yang memiliki karakteristik yang dibutuhkan oleh tembakau.
            Perlu dipertegas bahwa keberadaan perempuan Jember dalam industri tembakau dan kretek ini bukanlah bentuk eksploitasi. Ini yang perlu digarisbawahi. Sebab, etos kerja perempuan Jember sendiri pada dasarnya memang sangat kental. Hal ini dilihat dari fakta bahwa para perempuan pekerja tembakau di Jember awalnya berasal dari Madura. Sebuah pulau di Jawa Timur yang sangat menjunjung tinggi keberadaan perempuan. Masyarakat Madura adalah etnis yang percaya bahwa perempuan dalam berbagai sisi patut untuk dihormati. Perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Dan kepercayaan ini pun tercermin dalam peran perempuan pekerja di Madura. Sebuah etos kerja yang turut mereka bawa bersamaan dengan migrasi besar-besarannya ke Jember yang saat itu membuka lahan pekerjaan baru melalui perkebunan tembakau.
Hingga, kalau harus berpikir lebih dalam mengenai perempuan dan kretek, sungguh tidak adil rasanya bagi perempuan ketika mereka harus diposisikan sebagai korban dalam industri kretek. Pun, tidak seharusnya perempuan rela dibuat lupa oleh kedekatan mereka dengan industri kretek dulu. Dan ketika industri kretek benar-benar kehilangan kedaulatannya di negeri sendiri, mau dikemanakan jutaan perempuan pekerja kretek yang tiap harinya menggantungkan nasib pada keberadaan tembakau? Hanya dengan isu kesehatan – yang juga diteliti oleh orang luar – tidak seharusnya bangsa ini lupa akan aspek sosial-ekonomi-budaya yang bertalian erat dengan kretek. juga tidak seharusnya bangsa ini melupakan keberadaan saudara perempuan kita yang hidupnya bergantung pada industri ini. Mudah bagi para pembuat kebijakan untuk kemudian seenaknya melabeli kretek dengan embel-embel haram. Semudah mereka mendapatkan uang dari hasil pengolahan sumber daya alam negara ini tanpa perlu turut berpeluh keringat. Tapi tidak bagi para pekerja perempuan tembakau. Mereka tidak berharap banyak akan mendapatkan hasil berupa emas dari tembakau. Yang mereka pikirkan tiap hari hanyalah bagaimana bisa makan lagi untuk keesokan harinya. Dan semua itu bergantung pada industri tembakau di negara ini.
Tari Lahbako, Sebuah Bukti
            Sudah banyak dikisahkan, dipaparkan, dan diceritakan di atas bahwa perempuan sangat erat kaitannya dengan industri tembakau nasional, khususnya Jember. Namun, ada satu hal yang rasanya layak untuk menjadi penutup tulisan ini sebagai bukti akan kedekatan tersebut. Tidak lain adalah Tari Lahbako, sebuah tarian yang berasal dari Jember. Tarian ini dibuat pada sekitar tahun 80-an atas prakarsa bupati Jember saat itu sebagai bentuk apresiasi terhadap tembakau yang menguasai Jember dan juga sebagai bentuk penghargaan terhadap besarnya peran perempuan Jember dalam industri tembakau. Tarian ini bercerita tentang proses pengolahan tembakau dimulai dari panen hingga pengemasan. Dan yang menarikannya, tentu saja perempuan.
            Dimulai dari gerakan pertama adalah penggambaran para perempuan yang akan berjalan menuju ke kebun tembakau. Perempuan ini digambarkan dengan kesigapan yang indah. Setelah tiba di kebun, dilakukanlah kegiatan pemetikan daun yang diekspresikan pada gerakan ke dua. Dimulai dari bawah ke atas agar tidak merusak kekokohan tanaman tembakau itu. Ketika daun telah ditaruh dalam keranjang-keranjang, para perempuan ini pun digambarkan berjalan menuju gudang. Setibanya di gudang, lantas mereka melakukan gerakan seperti orang yang sedang keset sebagai tanda akan kebun yang kotor dan becek. Membersihkan kaki di atas keset ini adalah langkah awal mereka ketika mau memasuki gudang.
            Gudang tembakau ini merupakan tempat dimana para perempuan tersebut menjemur tembakau yang sudah dipanen. Tergambarkan di gerakan selanjutnya bahwa di gudang, daun-daun tersebut ditata sedemikian rupa untuk dijemur hingga kering. Setelah itu, daun-daun itu ditusuk dengan  menggunakan benang untuk mempermudah penataan di dalam gudang. Daun-daun yang telah ditusuk tersebut digantung di langit-langit gudang saling berdampingan satu dengan yang lain. Dan setelah itu barulah daun tembakau yang sudah kering itu dirapikan dengan cara dielus di paha, seperti yang digambarkan di gerakkan selanjutnya. Teknik merapikan daun-daun ini butuh keuletan dari para perempuan agar daun-daun tembakau itu tidak rusak maupun sobek. Kemudian setelah rapi dan dikemas, daun-daun tersebut pun siap diangkut ke tempat pengolahan agar dapat segera diproduksi.
            Dari keseluruhan proses tersebut, nyatanya memang sangat mewakili fakta di lapangan. Dimana, perempuan lah yang mayoritas mengerjakan semua proses itu. Kalaupun ada peran laki-laki di dalamnya, hanya pada bagian angkut-mengangkut. Maka tidak salah bukan jika kemudian tarian ini diciptakan dengan persembahan khusus untuk perempuan? Dan jika Anda bertanya bagaimana proses selanjutnya pasca pengemasan, memang tidak dibahas dalam tarian ini. Sebab, sebagai representasi aktivitas perempuan Jember, tarian inipun hanya berkisah tentang peran Jember sebagai produsen tembakau nasional. Dimana Jember memang terkenal hanya sebagai pemasok tembakau saja, bukan sebagai tempat industri pengolahannya menjadi kretek.
            Jika sampai pada tahap ini saja perempuan sudah memiliki andil sebesar itu, bagaimana dengan tahap selanjutnya? Sekedar informasi, dalam industri pengolahan dari tembakau menjadi kretek pun perempuan mengambil posisi yang sangat dominan. Ketika tembakau-tembakau tersebut dilinting menjadi kretek, perempuan lah yang melakukan. Maka menjadi jelas bukan bagaimana kedekatan perempuan dengan industri ini? Masih adilkah kita, sesama perempuan, berpikir bahwa perempuan jauh kaitannya dengan industri ini?  Sekarang bukan lagi eranya perjuangan perempuan dimaknai sebagai perlawanan terhadap patriarki laki-laki dengan selalu memposisikan perempuan sebagai korban.
Tapi sekarang adalah era dimana perjuangan perempuan haruslah dimaknai sebagai perjuangan kelas sosial terhadap – tidak hanya sistem sosial yang dihasilkan dari superioritas laki-laki  – kaum kerah putih yang berusaha mengasai industri nasional negara ini. Jangan mau dibodohi dan jangan sampai dianggap bodoh. Kita adalah bangsa yang memiliki kekayaan alam luar biasa yang memang tercipta untuk menghidupi bangsa ini. Tembakau maupun kretek adalah bagian dari itu semua. Jangan hanya karena gender maka kita bersekongkol untuk menyerahkan harta bangsa ini pada bangsa lain yang terlalu serakah. Pada era kolonial, bangsa ini pernah dijajah atas kekayaan sumber daya alamnya. Dan sekarang hal itu pula yang terjadi. Yang harus kita pahami bersama adalah hal ini merupakan penjajahan dalam bentuk baru, neo-colonialism. Jika masyarakat Jember yang - tidak masuk kategori metropolis - saja bisa dan mau belajar menghargai warisan budayanya dengan mengapresiasikannya ke dalam tarian, kenapa kita tidak?[]
*Tulisan ini telah dimuat di buku “Perempuan Berbicara Kretek”.


[1] Daeng, Salamudin dkk. 2011. “Kriminalisasi Berujung Monopoli”. Indonesia Berdikari (Dalam tabel II.2, Produsen tembakau terbesar di dunia tahun 2007. Sumber FAO 2099)
[2] Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. “Besaran Nilai Ekspor Tembakau dan Perbandingannya dengan Komoditas Lainnya Pada 2004”.
[3] Kabupaten Jember Dalam Angka 2010. “Penduduk Menurut Jenis Kelamin Hasil Registrasi Tahun 2008-2009”.
[4] Sumber: http://www.kpbptpn.co.id/news.php?lang=0&news_id=5516 Diakses pada 17 November 2011, pukul 15.35 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar