Minggu, 29 April 2012

Kilasan Memori


Hati selalu terbuka
Pulang menempuh masa
Hati selalu punya waktu
Pahami masa lalu
Tapi tetap saja, tak sampai-sampai
(Akademos, Bagus Takwin)


“Bilang ke Dini kita cuma berteman. Kalau keluar itu rame-rame ama anak-anak”

 Seketika jantungku berdegup kencang ketika membacanya. Dunia di sekitarku seperti susunan huruf-huruf yang tak kumengerti. Perutku mual dan perlahan dalam hitungan detik aku kehilangan cara tersenyum. Kubuka lagi isi pesan singkat itu di telepon genggamku. Membacanya berulang-ulang, mencoba untuk memahami maksudnya. Apa yang terjadi? Tadi pagi, dia baru saja mengatakan hal-hal yang membuatku serasa melambung di awan. Kalimat yang cukup membuatku tersenyum sepanjang hari, bahkan dalam tidur siangku.
“Kau sangat berharga bagiku. Kau bukan hanya tempat sampah untukku berkeluh kesah, tapi kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Kau berarti untukku, sampai sekarang. Dan sudah jelas bahwa aku menyayangimu”.
Tuhan…Wanita mana yang tidak berbunga-bunga jika mendengar kalimat itu terucap dari bibir pria yang selama ini selalu bisa membuatnya nyaman dan tenang dalam keadaan apapun? Apalagi, mungkin bisa dibilang ‘aku menyayangimu’ adalah alasan aku tetap bertahan bersamanya selama 9 bulan ini. Sembilan bulan yang singkat, menyenangkan, penuh emosi, dan tanpa ikatan. Tapi justru dalam 9 bulan inilah aku belajar menjadi seorang gadis bodoh dan wanita dewasa sekaligus dalam satu mata kuliah kehidupan yang bernama, perselingkuhan.

Semua berawal ketika aku, seorang gadis yang tidak terlalu suka berpikir, diajak pergi ke warung internet (warnet) oleh seorang pria yang memiliki tatapan mata hangat meluluhkan. Dana nama pria itu. Pertemuan pertama kami sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang membuatku terkesan dengannya. Dia bukan tipe pangeran impian seperti Pangerang William. Dia tidak setampan Alex Pettyfer dan juga tidak se-hot Antonio Banderas. Tapi entah mengapa, setelah pertemuan ketiga kami (yang masih biasa-biasa saja) aku langsung mau saja diajak pergi bersama olehnya. Saat itu terlintas di benakku, toh tidak ada yang salah dengan hal ini. Aku anggap dia sebagai tukang ojek yang memberiku tumpangan menuju warnet. Tapi di situlah letak kesalahan terbesarku. Saat aku mengiyakan ajakannya, aku tidak pernah berpikir bahwa dia bisa saja menjadi candu dan sumber masalah selama beberapa waktu dalam hidupku.

Waktu berlalu hari demi hari. Semakin hari kami semakin dekat. Dan warnet, selain kosanku tentunya, adalah tempat kami menghabiskan masa-masa kebersamaan kami tiap harinya. Kami biasa menghabiskan waktu di warnet dari malam hingga pagi. Ada saja yang kami kerjakan di depan komputer. Mulai dari bercerita tentang perut yang sakit, mengerjakan tugas yang sebagian besar adalah tugasku, mengunduh lagu, hingga mendengarkannya bersama-sama. Semua itu adalah saat-saat yang aku sukai. Tiap bersamanya, tidak ada hal lain yang aku pikirkan. Semua masalah yang tadinya menguras otak dan tenaga, tiba-tiba lenyap hanya dengan bercerita padanya di dalam pelukannya. Dan karena itulah, aku juga lupa bahwa dia adalah milik seseorang. Em.. sebenarnya aku tidak benar-benar lupa. Tapi seperti halnya dia yang tidak pernah sedikitpun menyinggung perihal kekasihnya, akupun tidak melakukannya. Dua bulan awal kebersamaan kami, aku masih memiliki seorang pacar yang tidak pernah aku cintai. Dan Dana, dari yang kudengar sedang bertengkar dengan pacarnya. Dengan kenyataan seperti itu, aku anggap kami hanya sekedar bersenang-senang dan tentunya butuh tempat, orang, atau pasangan untuk pelampiasan kesenangan itu. Aku pun memilihnya, dan sudah pasti dia juga memilihku.

Dalam hubungan kami, tidak pernah ada kata cinta, sayang, maupun suka. Ketika kami mengungkapkan perasaan, kami hanya berkata bahwa “aku merasa nyaman bersamamu”. Bagiku, itu sudah cukup mewakili segala yang aku rasakan. Lagipula, aku pikir, untuk mengatakan atau merasakan lebih dari ‘nyaman’ hanya akan menjadi tambahan dosa bagi kami berdua.

Berbicara soal dosa, mungkin orang-orang di sekitar kami bertanya-tanya, tidak pernahkah aku dan dia merasa bersalah pada orang-orang yang telah kami hianati. Dari sisinya, aku tidak bisa menjawab apapun. Karena dia adalah orang yang tidak pernah menetapkan hatinya pada satu pendirian. Tapi dari ucapnya, aku selalu mendengar kalimat sejenis ‘kalau jodoh tidak akan kemana’ atau kalimat seperti ‘aku yakin bila Tuhan mengijinkan, suatu saat aku akan bertemu denganmu dalam keadaan dan waktu yang tepat’. Iya, bisa dibilang dia penganut ajaran “Tidak Ada yang Salah dengan Hati”.

 Namun aku, aku tetaplah wanita. Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika kekasihku berkata dia menyukai wanita lain. Karena itulah, sudah beberapa kali aku menyatakan perpisahan dengan Dana. Tapi semua selalu saja sia-sia. Tiap kali dia kembali menghubungiku sekedar menanyakan kabar, aku pasti langsung luluh. Hingga hubungan yang tidak pernah dia sebut ‘selingkuh’  melainkan  ‘kebersamaan atas dasar kenyamanan’ itupun kami lanjutkan kembali. Seolah-olah Tuhan sedang mempermainkan kami dan menguji kesabaran kami, kami selalu kembali bersama. Rasanya seperti seorang pemabuk insyaf yang merindukan alkoholnya, itulah kami. Ketagihan untuk keluar bersama di tengah malam dan berpura-pura sebagai sepupu ketika bertemu dengan orang yang kami kenal. Dan lebih dari itu semua, aku memang selalu amat sangat nyaman saat bersamanya. Sehingga segala hal tentang moralitas kepemilikan pun aku abaikan.

Aku selalu menjadi diriku sendiri saat di sampingnya. Tidak perlu berpura-pura sopan atau berdandan cantik ketika dia datang. Cukup dengan daster dan tampang acak-acakan ketika bangun tidur, aku sudah merasa diterima. Aku merasa cantik. Bahkan ketika kami makan bersama sehabis aku berlatih badminton, dengan bau dan keringat yang membasahi tubuhku, dia tidak ragu berdekatan denganku.  Benar bahwa dia adalah pria yang menghargai wanita dan berpotensi besar untuk memiliki simpanan. Dia tipikal pria yang tidak segan-segan mendatangi seorang nenek berumur 80 tahun hanya untuk memuji betapa indahnya kaki nenek itu. Dan jika kau wanita, akan sangat mudah bagimu untuk meminjam jaketnya hanya dengan sedikit meringis kedinginan.

Bercerita tentangnya, sebenarnya banyak hal baik dan indah yang bisa aku kenang darinya jika aku mau. Tapi pesan singkat yang dia kirim padaku 22 Oktober itu sudah cukup mengahancurkan segala kenangan baik tentangnya di pikiranku. Semua hancur lebur bersama dengan kematianku. Untuk beberapa hari, aku mati rasa. Tidak beremosi. Tidak marah maupun sedih. Dia seperti tidak pernah ada dalam hidupku. Seharusnya, ketika mantan pacarnya yang baru beberapa hari putus dengannya meneleponku, aku merasa biasa saja. Tapi kenyataanya, aku rasa ada yang salah. Mungkin benar bahwa putusnya hubungan Dana dan Dini tidak sepenuhnya karena aku. Tapi tetap saja, aku adalah duri kecil yang paling menusuk dalam hubungan yang sudah terjalin sekitar 3 tahun itu.

Tanpa berpikir panjang, akupun mundur. Mundur dari segala kekacauan yang ada. Bukan untuk melarikan diri dari masalah. Tapi lebih kepada, karena aku merasa bersalah. Tidak munafik, selama ini aku memang egois. Meminjam ‘barang’ orang tanpa seijin pemiliknya. Dan kini, sudah saatnya barang itu aku kembalikan. Kembalikan pada Dini yang sebenarnya bukan pemiliknya lagi. Tapi setahuku, hanya dialah yang paling berhak memilikinya kembali. Dalam sudut hatiku, aku ingin mereka kembali bersama. Terlebih lagi, setelah berbincang beberapa jam dengan Dini via telepon, aku bisa merasakan kebaikannya. Dia adalah wanita yang baik sekaligus bodoh. Tipe calon istri idaman yang sudah tentu akan tetap mendampingi kekasihnya dan membelanya mati-matian, meskipun kekasihnya itu terekam video sedang bercinta dengan kekasih pria lain dan dituntut di meja hijau. Pernah aku bertanya, bagaimana bisa dia seperti itu? Dan dia hanya menjawab bahwa dia manusiawi. Dia sudah menghujat Dana seperti halnya menghujatku. Tapi dia sangat menyayangi Dana dan dia masih bisa menerimanya kembali.

Mungkin kedengarannya konyol, namun, hal yang membuatku sedih dalam kisah ini bukanlah karena aku tidak mendapatkan apapun pada akhirnya. Bukanlah karena aku pada akhirnya mundur dan mengganti nomor ponselku. Bukanlah karena pada akhirnya Dana mungkin sangat membenciku karena mengatakan yang sebenarnya pada Dini dan karena aku meminta Dini memaafkan Dana untuk menerimanya kembali. Bukanlah karena Dana mengata-ngataiku sok pahlawan dalam hubungan mereka. Yang membuatku benar-benar kecewa bukanlah isi pesan singkatnya yang memintaku bungkam dan kenyataan bahwa aku tidak seberharga yang dia katakan. Tapi yang membuatku paling sedih adalah  karena di akhir kisah ini aku tahu bahwa Dana yang selama ini aku kenal ternyata tidak sebaik yang aku kira. Atau lebih tepatnya, aku pikir aku mengenalnya. Tapi ternyata tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya.

Sekarang, aku akui bahwa aku belum benar-benar pulih. Terkadang masih terasa sedikit sakit ketika aku terpaksa bertemu dengannya dalam suatu acara. Namun, ketika aku mengenang kembali cerita lengkap kisah itu, aku hanya bisa menertawai kebodohanku. Bahkan dengan kesepian dan patah hati, segalanya menjadi lucu bagiku. Dan aku rasa, lengkap sudah pengalamanku tentang cinta. Aku pernah diduakan, pernah menjadi wanita idaman lain, pernah merasakan ikatan mulus dan rasa cinta tulus dari seorang pria baik, pernah merasakan hubungan bergelora yang penuh nafsu dan tanpa ikatan apapun, dan sudah pasti aku telah merasakan nikmatnya kesendirian. Setidaknya dalam kesendirianku saat ini, aku tetap bisa menjadi diriku sendiri. Devi yang young, free, bertanggung jawab, dan selalu menyukai malam.


NB: Dalam kisah ini, Dana dan Dini hanyalah nama samaran. Jika terdapat kesamaan nama, karakter, maupun cerita, itu udah jelas cuma kebetulan. Dan cerita ini hanya curhatan sang penulis. Tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar