Hati selalu
terbuka
Pulang menempuh
masa
Hati selalu
punya waktu
Pahami masa lalu
Tapi tetap saja,
tak sampai-sampai
(Akademos, Bagus Takwin)
“Bilang ke Dini kita cuma berteman.
Kalau keluar itu rame-rame ama anak-anak”
Seketika jantungku berdegup
kencang ketika membacanya. Dunia di sekitarku seperti susunan huruf-huruf yang
tak kumengerti. Perutku mual dan perlahan dalam hitungan detik aku kehilangan
cara tersenyum. Kubuka lagi isi pesan singkat itu di telepon genggamku.
Membacanya berulang-ulang, mencoba untuk memahami maksudnya. Apa yang terjadi?
Tadi pagi, dia baru saja mengatakan hal-hal yang membuatku serasa melambung di
awan. Kalimat yang cukup membuatku tersenyum sepanjang hari, bahkan dalam tidur
siangku.
“Kau sangat berharga bagiku. Kau
bukan hanya tempat sampah untukku berkeluh kesah, tapi kau sudah menjadi bagian
dari hidupku. Kau berarti untukku, sampai sekarang. Dan sudah jelas bahwa aku
menyayangimu”.
Tuhan…Wanita mana yang tidak berbunga-bunga jika mendengar kalimat itu
terucap dari bibir pria yang selama ini selalu bisa membuatnya nyaman dan
tenang dalam keadaan apapun? Apalagi, mungkin bisa dibilang ‘aku menyayangimu’
adalah alasan aku tetap bertahan bersamanya selama 9 bulan ini. Sembilan bulan
yang singkat, menyenangkan, penuh emosi, dan tanpa ikatan. Tapi justru dalam 9
bulan inilah aku belajar menjadi seorang gadis bodoh dan wanita dewasa
sekaligus dalam satu mata kuliah kehidupan yang bernama, perselingkuhan.
Semua berawal ketika aku, seorang gadis yang tidak terlalu suka berpikir,
diajak pergi ke warung internet (warnet) oleh seorang pria yang memiliki
tatapan mata hangat meluluhkan. Dana nama pria itu. Pertemuan pertama kami
sebenarnya biasa saja. Tidak ada yang membuatku terkesan dengannya. Dia bukan
tipe pangeran impian seperti Pangerang William. Dia tidak setampan Alex
Pettyfer dan juga tidak se-hot
Antonio Banderas. Tapi entah mengapa, setelah pertemuan ketiga kami (yang masih
biasa-biasa saja) aku langsung mau saja diajak pergi bersama olehnya. Saat itu
terlintas di benakku, toh tidak ada
yang salah dengan hal ini. Aku anggap dia sebagai tukang ojek yang memberiku
tumpangan menuju warnet. Tapi di situlah letak kesalahan terbesarku. Saat aku
mengiyakan ajakannya, aku tidak pernah berpikir bahwa dia bisa saja menjadi
candu dan sumber masalah selama beberapa waktu dalam hidupku.
Waktu berlalu hari demi hari. Semakin hari kami semakin dekat. Dan
warnet, selain kosanku tentunya, adalah tempat kami menghabiskan masa-masa
kebersamaan kami tiap harinya. Kami biasa menghabiskan waktu di warnet dari
malam hingga pagi. Ada
saja yang kami kerjakan di depan komputer. Mulai dari bercerita tentang perut
yang sakit, mengerjakan tugas yang sebagian besar adalah tugasku, mengunduh
lagu, hingga mendengarkannya bersama-sama. Semua itu adalah saat-saat yang aku
sukai. Tiap bersamanya, tidak ada hal lain yang aku pikirkan. Semua masalah
yang tadinya menguras otak dan tenaga, tiba-tiba lenyap hanya dengan bercerita
padanya di dalam pelukannya. Dan karena itulah, aku juga lupa bahwa dia adalah
milik seseorang. Em.. sebenarnya aku tidak benar-benar lupa. Tapi seperti
halnya dia yang tidak pernah sedikitpun menyinggung perihal kekasihnya, akupun
tidak melakukannya. Dua bulan awal kebersamaan kami, aku masih memiliki seorang
pacar yang tidak pernah aku cintai. Dan Dana, dari yang kudengar sedang
bertengkar dengan pacarnya. Dengan kenyataan seperti itu, aku anggap kami hanya
sekedar bersenang-senang dan tentunya butuh tempat, orang, atau pasangan untuk
pelampiasan kesenangan itu. Aku pun memilihnya, dan sudah pasti dia juga
memilihku.
Dalam hubungan kami, tidak pernah ada kata cinta, sayang, maupun suka.
Ketika kami mengungkapkan perasaan, kami hanya berkata bahwa “aku merasa nyaman
bersamamu”. Bagiku, itu sudah cukup mewakili segala yang aku rasakan. Lagipula,
aku pikir, untuk mengatakan atau merasakan lebih dari ‘nyaman’ hanya akan
menjadi tambahan dosa bagi kami berdua.
Berbicara soal dosa, mungkin orang-orang di sekitar kami bertanya-tanya,
tidak pernahkah aku dan dia merasa bersalah pada orang-orang yang telah kami
hianati. Dari sisinya, aku tidak bisa menjawab apapun. Karena dia adalah orang
yang tidak pernah menetapkan hatinya pada satu pendirian. Tapi dari ucapnya,
aku selalu mendengar kalimat sejenis ‘kalau jodoh tidak akan kemana’ atau
kalimat seperti ‘aku yakin bila Tuhan mengijinkan, suatu saat aku akan bertemu
denganmu dalam keadaan dan waktu yang tepat’. Iya, bisa dibilang dia penganut
ajaran “Tidak Ada yang Salah dengan Hati”.
Namun aku, aku tetaplah wanita.
Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya ketika kekasihku berkata dia menyukai
wanita lain. Karena itulah, sudah beberapa kali aku menyatakan perpisahan
dengan Dana. Tapi semua selalu saja sia-sia. Tiap kali dia kembali
menghubungiku sekedar menanyakan kabar, aku pasti langsung luluh. Hingga
hubungan yang tidak pernah dia sebut ‘selingkuh’ melainkan
‘kebersamaan atas dasar kenyamanan’ itupun kami lanjutkan kembali.
Seolah-olah Tuhan sedang mempermainkan kami dan menguji kesabaran kami, kami
selalu kembali bersama. Rasanya seperti seorang pemabuk insyaf yang merindukan
alkoholnya, itulah kami. Ketagihan untuk keluar bersama di tengah malam dan
berpura-pura sebagai sepupu ketika bertemu dengan orang yang kami kenal. Dan
lebih dari itu semua, aku memang selalu amat sangat nyaman saat bersamanya. Sehingga
segala hal tentang moralitas kepemilikan pun aku abaikan.
Aku selalu menjadi diriku sendiri saat di sampingnya. Tidak perlu
berpura-pura sopan atau berdandan cantik ketika dia datang. Cukup dengan daster
dan tampang acak-acakan ketika bangun tidur, aku sudah merasa diterima. Aku
merasa cantik. Bahkan ketika kami makan bersama sehabis aku berlatih badminton,
dengan bau dan keringat yang membasahi tubuhku, dia tidak ragu berdekatan
denganku. Benar bahwa dia adalah pria
yang menghargai wanita dan berpotensi besar untuk memiliki simpanan. Dia
tipikal pria yang tidak segan-segan mendatangi seorang nenek berumur 80 tahun
hanya untuk memuji betapa indahnya kaki nenek itu. Dan jika kau wanita, akan
sangat mudah bagimu untuk meminjam jaketnya hanya dengan sedikit meringis
kedinginan.
Bercerita tentangnya, sebenarnya banyak hal baik dan indah yang bisa aku
kenang darinya jika aku mau. Tapi pesan singkat yang dia kirim padaku 22
Oktober itu sudah cukup mengahancurkan segala kenangan baik tentangnya di
pikiranku. Semua hancur lebur bersama dengan kematianku. Untuk beberapa hari,
aku mati rasa. Tidak beremosi. Tidak marah maupun sedih. Dia seperti tidak
pernah ada dalam hidupku. Seharusnya, ketika mantan pacarnya yang baru beberapa
hari putus dengannya meneleponku, aku merasa biasa saja. Tapi kenyataanya, aku
rasa ada yang salah. Mungkin benar bahwa putusnya hubungan Dana dan Dini tidak
sepenuhnya karena aku. Tapi tetap saja, aku adalah duri kecil yang paling
menusuk dalam hubungan yang sudah terjalin sekitar 3 tahun itu.
Tanpa berpikir panjang, akupun mundur. Mundur dari segala kekacauan yang
ada. Bukan untuk melarikan diri dari masalah. Tapi lebih kepada, karena aku
merasa bersalah. Tidak munafik, selama ini aku memang egois. Meminjam ‘barang’
orang tanpa seijin pemiliknya. Dan kini, sudah saatnya barang itu aku
kembalikan. Kembalikan pada Dini yang sebenarnya bukan pemiliknya lagi. Tapi
setahuku, hanya dialah yang paling berhak memilikinya kembali. Dalam sudut
hatiku, aku ingin mereka kembali bersama. Terlebih lagi, setelah berbincang
beberapa jam dengan Dini via telepon, aku bisa merasakan kebaikannya. Dia
adalah wanita yang baik sekaligus bodoh. Tipe calon istri idaman yang sudah
tentu akan tetap mendampingi kekasihnya dan membelanya mati-matian, meskipun
kekasihnya itu terekam video sedang bercinta dengan kekasih pria lain dan
dituntut di meja hijau. Pernah aku bertanya, bagaimana bisa dia seperti itu?
Dan dia hanya menjawab bahwa dia manusiawi. Dia sudah menghujat Dana seperti
halnya menghujatku. Tapi dia sangat menyayangi Dana dan dia masih bisa
menerimanya kembali.
Mungkin kedengarannya konyol, namun, hal yang membuatku sedih dalam kisah
ini bukanlah karena aku tidak mendapatkan apapun pada akhirnya. Bukanlah karena
aku pada akhirnya mundur dan mengganti nomor ponselku. Bukanlah karena pada
akhirnya Dana mungkin sangat membenciku karena mengatakan yang sebenarnya pada Dini
dan karena aku meminta Dini memaafkan Dana untuk menerimanya kembali. Bukanlah
karena Dana mengata-ngataiku sok pahlawan dalam hubungan mereka. Yang membuatku
benar-benar kecewa bukanlah isi pesan singkatnya yang memintaku bungkam dan
kenyataan bahwa aku tidak seberharga yang dia katakan. Tapi yang membuatku
paling sedih adalah karena di akhir
kisah ini aku tahu bahwa Dana yang selama ini aku kenal ternyata tidak sebaik
yang aku kira. Atau lebih tepatnya, aku pikir aku mengenalnya. Tapi ternyata
tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya.
Sekarang, aku akui bahwa aku belum benar-benar pulih. Terkadang masih
terasa sedikit sakit ketika aku terpaksa bertemu dengannya dalam suatu acara.
Namun, ketika aku mengenang kembali cerita lengkap kisah itu, aku hanya bisa
menertawai kebodohanku. Bahkan dengan kesepian dan patah hati, segalanya
menjadi lucu bagiku. Dan aku rasa, lengkap sudah pengalamanku tentang cinta.
Aku pernah diduakan, pernah menjadi wanita idaman lain, pernah merasakan ikatan
mulus dan rasa cinta tulus dari seorang pria baik, pernah merasakan hubungan
bergelora yang penuh nafsu dan tanpa ikatan apapun, dan sudah pasti aku telah
merasakan nikmatnya kesendirian. Setidaknya dalam kesendirianku saat ini, aku
tetap bisa menjadi diriku sendiri. Devi yang young, free, bertanggung
jawab, dan selalu menyukai malam.
NB: Dalam kisah ini, Dana dan Dini
hanyalah nama samaran. Jika terdapat kesamaan nama, karakter, maupun cerita,
itu udah jelas cuma kebetulan. Dan cerita ini hanya curhatan sang penulis.
Tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar