Memaknai
budaya berarti memaknai sesuatu yang tak berbatas. Budaya merupakan suatu pola
hidup menyeluruh yang bersifat abstrak, luas, dan kompleks. Budaya adalah nafas
dari kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Budaya ada dan berkembang di tempat
dimana ada kehidupan manusia. Secara teoritis, budaya mungkin bisa dimaknai
sebagai ide, tindakan, dan karya. Ide yang berasal dari manusia untuk kemudian
diwujudkan dalam bentuk sebuah tindakan yang lalu menghasilkan output berupa produk budaya atau karya.
Inilah wujud yang bisa ditangkap mengenai budaya hingga saat ini.
Namun
teori tersebut bukanlah patokan untuk dapat mendefinisikan budaya. Sebab budaya
itu fleksibel. Mampu dibentuk dari mana saja, dan diserap oleh siapa saja.
Karena itulah budaya kerap kali juga dikatakan terdefinisi secara horizontal. Dimana
berarti bahwa proses pembentukannya bisa dimulai dari ide, dari tindakan, atau
bahkan dari karya terlebih dahulu. Dan yang harus digarisbawahi kemudian adalah
budaya erat kaitannya dengan waktu. Waktulah yang menentukan sebuah kebiasaan,
pola, atau sistem dapat disebut budaya atau tidak. Singkatnya, budaya adalah
pedoman hidup masyarakat yang diatur secara turun-temurun, disosialisasikan
dalam jangka waktu lama, dan semakin tua budaya tersebut (seharusnya) semakin
bermakna.
Berbicara budaya bisa jadi berkaitan
langsung dengan citra. Sebab, budaya selalu mengambil posisi atas pencitraan
suatu daerah, masyarakat, ataupun sistem.
Sehingga dapat dikatakan bahwa citra budaya pada dasarnya bersifat
memaksa. Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali masyarakat
dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan
nilai logis yang dapat dipinjam kelompok masyarakat yang paling bersahaja untuk
memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka. Budayalah yang
menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas
seseorang ataupun masyarakat dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang
lain. Namun, menyoal budaya rasanya terlalu dangkal jika hanya didalami sampai
pada teoritis saja. Pada dasarnya, komponen yang juga tak kalah penting untuk
dikenali dari budaya adalah proses pembentukannya.
Karena
kaitannya yang erat dengan masyarakat, maka biasanya yang dimaknai dengan
budaya adalah yang memang dihasilkan dari kebiasaan masyarakat. Atau dapat dikatakan
budaya itu bottom-up. Lahir dari
masyarakat, dan kemudian disosialisasikan oleh pemerintah. Namun dengan
maraknya berbagai kepentingan yang muncul dalam struktur sosial masyarakat,
banyak produk budaya yang tidak lagi lahir dari rahim masyarakat, melainkan
dari rahim pemerintah. Inilah yang disebut dengan produk budaya konstruksi.
Produk budaya yang biasanya menjadi perdebatan di kalangan budayawan dan
antropolog karena pembentukannya yang sarat akan unsur politis serta tidak
bermuara dari masyarakat.
Masyarakat layaknya teks yang bisa
diubah, maupun berubah dengan sendirinya atau dapat dikatakan tidak stabil. Hingga
satu-satunya cara untuk memahami isi teks tersebut hanyalah dengan membacanya
serta mengenali pola-pola yang dimiliki. Pola-pola yang muncul dalam masyarakat
adalah pola-pola yang sangat dinamis dan tidak memiliki rumus pasti. Dan ketika
dinamisasi itu dikaitkan dengan budaya, tentu akan menjadi sebuah harmonisasi
yang saling menyesuaikan. Dimana budaya itu ada dan berkembang sesuai dinamika
masyarakat. Perkembangan yang kemudian secara disadari dapat menciptakan suatu
pola yang baru. Dinamika inilah yang oleh para antropolog disebut dengan
akulturasi dan asimilasi.
Akulturasi
maupun asimilasi ini adalah tipe percampuran budaya yang saat ini menjadi kunci
utama dalam menganalisa pembentukan dan perkembangan kebudayaan di suatu
daerah. Akulturasi memang memiliki berbagai arti di antara para sarjana
antropologi. Tetapi semua sepaham bahwa konsep itu mengenai proses sosial yang
timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan
dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga
unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam
kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu
sendiri.
Agak
berbeda dengan akulturasi, asimilasi memiliki output serta cara sendiri dalam bentukannya. Jika akulturasi memiliki
hasil percampuran yang membentuk budaya baru tanpa menghilangkan wujud aslinya.
Maka asimilasi juga merupakan percampuran dua budaya akan tetapi menghasilkan
suatu kebudayaan baru yang kebudayaan dari kedua golongan tersebut
masing-masing berubah sifat khasnya, dan juga unsur-unsurnya masing-masing
berubah wujudnya menjadi kebudayaan campuran.
Idealnya, merunut proses pembentukan
budaya suatu daerah, berarti melacak secara kronologis dulu bagaimana sejarah
daerah tersebut. Bagaimana perkembangan masyarakat daerah tersebut. Dan tentu
saja bagaimana asal muasal sistem pemerintahan daerah tersebut. Inilah gerbang
utama yang harus dilalui untuk bisa memasuki dunia budaya. Maka untuk sama-sama
dipermudah, tulisan ini akan memfokuskan bahasan selanjutnya dengan menambahkan
Jember di belakang kata ‘budaya’ itu sendiri. Ya, sebuah kabupaten di hampir
ujung timur Pulau Jawa yang terkenal sebagai Kota Tembakau. Namun bukan ikon
ini yang akan dibahas. Melainkan bagaimana Jember yang tidak ber-budaya ini
bisa memiliki keseksian Pandhalungan yang tentu sangat menarik hasrat para
antropolog untuk datang ke sana, menetap, hingga menghasilkan jurnal penelitian
Pandhalungan.
Di
antara berbagai daerah di Tapal Kuda, Jember adalah salah satu daerah yang
paling menarik untuk dikupas sejarahnya. Ketertarikan itu berawal dari sebuah
pemahaman akan sejarahnya yang sebagian besar masih berupa ‘misteri’. Inilah
titik pentingnya.
Kota
ini awalnya berstatus sebagai salah satu distrik dari regentschap Bondowoso. Kota yang dulu tidak terlalu besar, sepi,
dan juga tidak dikenal. Namun perkebunan-perkebunan yang dimilikinya sebagai akibat
kebijakan ekonomi ‘the system of
enterprise’ pada dekade ke enam dan ke tujuh abad XIX, dapat dikatakan merupakan titik awal
perkembangannya dari kota kecil yang senyap menjadi kota yang cukup
diperhitungkan di Indonesia. Kehadiran sistem perkebunan swasta ini membawa
dampak berarti bagi keberadaan Kota Jember hingga saat ini. Terjadi
perubahan-perubahan sosial dan ekonomi secara besar-besaran di kota ini. Dan
yang terpenting adalah ketika pada 1883 Jember akhirnya lepas dari regentschap Bondowoso, Jember seolah
dapat bernafas lega dan terus berpacu untuk kian berkembang. Pemerintah pusat
pun segera mengadakan pembangunan di sana-sini. Mulai dari sistem pemerintahan,
infrasturktur, hingga jalan-jalan rel kereta api yang menguak isolasi Jember
dari daerah lain.
Runtuhnya
‘pagar-pagar’ di sekeliling Jember membuka jalan luas bagi para imigran untuk
berbondong-bondong hidup di sana. Gelombang migrasi paling besar datang dari
Jawa dan Madura. Kedatangan migran dari kedua etnis besar tersebut tentu tidak
dengan tangan kosong. Keduanya membawa apa yang telah ada dan melekat pada diri
mereka, yaitu budaya. Budaya yang berbeda satu sama lain dan memiliki
ke-khas-annya tersendiri. Yang kemudian dikembangkan di Jember, saling
bersentuhan, dan digadang-gadang sebagai pembentuk Pandhalungan Jember. Lantas,
apa sebenarnya Pandhalungan itu? Dan bagaimana konsepnya jika dilihat dari kacamata
Jember?
Jember dalam Dhalung
“Kalau
dilihat dari proses panjang Jember, belum bisa kita bicara tentang budaya.
Bukan tidak, tapi belum.” Diskusi rutin yang dilakukan di sekretariat Tegalboto
beberapa bulan yang lalu dibuka oleh Mandon, salah seorang yang dianggap pakar
budaya Jember. Secara eksplisit, dosen Fakultas Sastra Universitas Jember itu
menjelaskan perihal budaya Jember. Sebuah bahasan yang selama ini banyak
diperbincangkan dan menjadi perdebatan dimana-mana. Bukan soal budaya Jember
yang diakui negara lain seperti yang dialami Reog Ponorogo. Tapi masih soal apa
sebenarnya budaya Jember itu sendiri?
Selama
ini masyarakat yang mendiami Jember sendiri banyak yang belum paham konsep
sesungguhnya dari Pandhalungan. Pandhalungan, yang berasal dari kata dhalung yang berarti periuk besar adalah
penggambaran nyata dari percampuran budaya yang terjadi. Dalam istilah
antropologi, hal ini disebut dengan hybrid
atau yang lebih dikenal dengan budaya hibrida.
Sebenarnya
bukan Jember saja yang menyimpan keistimewaan ini. Amerika pun terkenal dengan
budaya hybrid-nya. Budaya hybrid yang
tercipta di Amerika biasa disebut melting
pot. Namun, ada perbedaan mendasar antara hybrid di Amerika dan Jember. Ayu Sutarto, peneliti yang telah lama
menekuni Pandhalungan, menjelaskan bahwa perbedaan itu terletak pada tipe
percampurannya. Jember hanya dicampuri Jawa dan Madura, sedangkan Amerika
dicampuri berbagai macam suku bangsa hingga dijuluki the nation of nations. Dan Amerika sendiri sudah sangat lama
mengalami proses percampuran tersebut. Sebuah proses yang berujung pada konsep
ke-Amerika-an seperti sekarang hingga warganya bisa berkata bahwa,”Saya
Amerika.” Lalu bagaimana dengan Jember?
Keberadaan
masyarakat Jember yang didominasi dua etnis besar, Jawa dan Madura, membuat Jember menjadi abstrak dalam budaya.
Dalam pertemuan dua etnis besar tersebut tidak ada salah satu dari keduanya
yang kemudian mendominasi kebudayaan Jember. Melainkan terjadi pembagian
wilayah yang cukup adil dalam kawasan Jember sendiri. Dimana Jember Utara
identik dan didiami oleh etnis Madura, sedangkan Jember Selatan dikuasai oleh
etnis Jawa. Kekuasaan yang dimaksud disini bukan kekuasaan politis yang
cenderung bermakna negatif, tapi lebih kepada kekuasaan yang berpengaruh pada
sistem sosial dalam bermasyarakat. Dan Pandhalungan adalah sebuah fenomena
kebudayaan yang ditemui di Jember tengah. Hal ini terlihat jelas dari produk
kebudayaan yang ada di sana.
Banyak
diceritakan, dikisahkan, dipaparkan, bahkan digambarkan bahwa Jember memiliki
sebuah budaya bernama Pandhalungan. Sebuah budaya yang oleh Christanto P.
Raharjo disebut-sebut berada pada ‘ruang lain kebudayaan’. Sebab Pandhalungan
tidak memiliki atraksi kebudayaan yang dimiliki kebudayaan-kebudayaan lain di
Indonesia seperti Panaragan, Samin, maupun Osing.
Juga, terdapat beberapa literatur
yang mengatakan bahwa Jember telah memiliki beberapa produk kebudayaan sebagai
hasil akulturasi antara kebudayaan Madura dan kebudayaan Jawa yang dibawa ke
Jember. Namun, benarkah proses percampuran keduanya benar-benar sudah
membuahkan hasil berupa produk kebudayaan baru? Lihat saja patrol, seni musik
yang instrumennya terbuat dari bambu, dan terinspirasi oleh para penjaga malam
yang sedang ronda. Tiap bulan Puasa Ramadhan arak-arakannya ramai mengelilingi
jalan-jalan utama di Jember. Konon, kesenian ini asli Jember. Namun hal ini
dibantah oleh Mandon. Ia mengatakan, “Patrol yang di Jember itu aslinya dari Probolinggo.
Kentung yang dibuat itu dibuat oleh orang Probolinggo.” Lebih jauh mandon
menjelaskan bahwa salah satu cara mengukur budaya adalah melalui nada. Dan nada
yang didapat dari Patrol Jember, hingga saat ini menurutnya tidak ada perbedaan
dari Patrol yang lain.
Selain itu, salah satu yang paling
fenomenal adalah Tari Lahbako. Sebuah tarian yang menceritakan tentang proses
pengolahan tembakau. Tarian ini sempat dijargonkan sebagai produk asli kesenian
Jember. Sebab Jember terkenal dengan tanaman tembakaunya. Namun hal ini
lagi-lagi dibantah oleh Mandon. “Tarian Lahbako diciptakan oleh Mbah Bagong.
Padahal Mbah Bagong orang Jogja. Makanya temen-temen Jatim (baca: penggiat
budaya Jawa Timur.red) nggak terima.
Budaya kok dibikin-bikin. Karena yang namanya budaya asli itu bukan bikinan,
tapi proses yang lama. Jangan memaksakan lah. Kalau kita memaksakan itu
makanannya teman-teman politik.”
Inilah yang menjadi ironi. Dari
berbagai macam produk kesenian Jember yang konon asli Jember, tidak jarang yang
ditemukan sebagai budaya rekayasa. Seperti Tari Lahbako contohnya, “Kepentingan
bupati waktu itu. Karena waktu itu akan ada pertemuan bupati se-Jatim dimana
tiap bupati harus membawa tarian daerah,” Mandon menegaskan.
Maka,
mungkin hingga saat ini yang dapat dikatakan ikon Jember hanyalah Jember
Fashion Carnaval (JFC). Sebuah seni kontemporer yang memanjakan penikmatnya
dengan suguhan berbagai macam rancangan baju karnaval dengan tema bervariasi.
Namun, tetap jika dilihat dari benang merah antara diakuinya suatu budaya
melalui waktu, JFC belum dapat dikatakan budaya asli Jember. Sebab JFC hanya
merupakan seni yang berasal dari buah pikiran Dinand Fariz yang visualisasinya
pun tak jauh berbeda dengan festival busana Brasil yang sudah ada sejak ratusan
tahun lalu. Belum lagi, Solo Batik Festival, Banyuwangi Ethnic Carnival,
keduanya juga hasil ciptaan Dinan Fariz. Tidak ada ke-khas-an yang berarti di
dalamnya. Tidak ada ciri di dalamnya yang dapat dilihat sebagai perwakilan pola
hidup masyarakat Jember.
Dan jika harus mengacu pada definisi
Koentjaraningrat tentang produk budaya yang seharusnya menyejahterakan, rasanya
Jember belum punya. Sebab kenyataannya, hingga saat ini perpaduan antara budaya
Jawa dan Madura yang mendiami Jember masih sama-sama kuat. Dengan ke-khas-annya
masing-masing, keduanya saling mengisi ruang-ruang kosong dalam produk budaya
yang ada. Ya, hanya sebatas saling mengisi dan belum menelurkan sebuah produk
budaya baru.
Namun, budaya tetaplah budaya.
Berdampingan dengan masyarakat, budaya pun memiliki sifat fleksibel. Dilahirkan
oleh pemerintah maupun masyarakat, tetap tidak akan berarti jika tidak ada yang
merawatnya, memupuknya, dan menyiramnya hingga ia terus tumbuh dengan subur. Pun
tidak ada gunanya kita memprediksi kapan budaya Jember harus segera terbentuk.
Atau, pun tidak ada gunanya berusaha membuat Jember tampak sangat khas dengan
membuat beberapa rekayasa produk budaya. Sebab, inilah Jember.
Dengan
pandhalungannya, Jember sudah menjadi sangat unik. Masyarakat maupun pemerintah
hanya perlu mengamini dan berbesar hati bahwa Jember memang belum memiliki
budaya asli yang lahir dan dibesarkan oleh Jember. Jadi, biarkan saja Jember
berproses dengan sendirinya mencari jati diri budayanya. Masih terbuka
kemungkinan yang sangat besar bagi jember untuk memiliki kebudayaannya. Karena
budaya itu proses yang panjang. Dan setidaknya, Pandhalungan dapat dijadikan
sebuah awalan akan harapan Jember yang ber-budaya.Toh mau jadi apa nanti, mau
bertahan atau langsung punah, semua juga kembali pada masyarakat. Seperti yang
disampaikan oleh Kepala Kantor Pariwisata, Aris Cahyono, kalau budaya asal atau
seni itu pengen maju, tanggapen.
Dibeli.” Sebuah pernyataan yang relevan mengingat selama ini masyarakat memang
lebih mencintai budaya dari luar daripada budaya sendiri. []
*Tulisan ini telah dimuat di salah satu edisi Newsletter Tegalboto (Pers Mahasiswa Universitas Jember)
Sebenarnya, Jember lelah disebut pendhalungan oleh orang-orang pinter (yang justru bukan dari Jember), hehe.. Ini bukan tentang jember sentris lho, tapi tentang bagaimana orang jember menilai dirinya sendiri. Menilai, menimbang, dan mengembangkan kreasi sendiri, tanpa harus ada bantah-bantahan.
BalasHapusSalam persahabatan.. Tulisannya bagus :))
salam persahabatan :))
BalasHapusTerima kasih atas masukannya.
saya hanya salah satu bagian dari orang-orang melelahkan itu, namun dalam versi yg tidak pintar. hehe..
Menulis tentang Jember mungkin suatu bentuk perkenalan saya dengannya setelah 4 tahun mengambil untung dari menimba ilmu disini.
mbak devi mohon ijin sedot artikelnya untuk harian pagi memo timur.. karena tulisan ini sangat menarik untuk dibaca banyak orang yang gaptek :)
BalasHapus